RADARBANYUWANGI.ID - Memasuki musim tanam, puluhan petani mengadakan tradisi Bubak Bumi di Dam Gembleng, Desa Aliyan, Keamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jumat (14/11).
Para petani asal tiga kecamatan tersebut berdoa bersama dilanjutkan kenduri.
Bubak Bumi kali ini diikuti para petani asal Kecamatan Rogojampi, Blimbingsari, dan Srono. Khususnya petani pemilik laha di daerah irigasi Dam Gembleng.
Hadir pula unsur Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi, kepala desa sepanjang aliran sungai Dam Gembleng, Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa), serta staf Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono dan Blimbingsari.
Juru Dam Gembleng Sunardi mengatakan, pihaknya melaksanakan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang telah diperoleh pada tahun ini.
“Sekaligus memohon kelancaran dan keberkahan untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya.
Menurut dia, Dam Gembleng yang dibangun sekitar tahun 1921 ini mengaliri 2.050 hektare (Ha) lahan persawahan di Desa Parijatah Wetan, Wonosobo, dan Sukomaju, Kecamatan Srono; Desa Aliyan, Mangir, dan Gladag di Kecamatan Rogojampi; serta Desa Gintangan, Kaligung, Karangrejo, Bomo, Kecamatan Blimbingsari
Tradisi Bubak Bumi ini, lanjut dia, diikuti oleh petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) se-Daerah Irigasi Dam Gembleng.
Mereka melaksanakan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. “Acara ini intinya dalah doa bersama menyambut musim tanam,” lanjutnya.
Setelah berdoa bersama, imbuh Sunardi, para petani berbagi makanan yang telah disiapkan sebelumnya.
“Ritual ini bukan hanya doa bersama untuk menyambut awal musim tanam tetapi juga sarana untuk menguatkan kebersamaan,” terangnya.
Sekretaris Desa (Sekdes) Wonosobo Rudi mengatakan, kegiatan berlangsung khidmat dan lancar. “Acara doa bersama ini bertujuan untuk menyambut musim tanam,” pungkasnya. (cw3/sgt)
Editor : Ali Sodiqin