RADARBANYUWANGI.ID - Harga ayam dan telur di sejumlah pasar tradisional Banyuwangi terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.
Di Pasar Rogojampi dan Pasar Blambangan, harga telur kini menembus Rp 29 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 26 ribu. Sementara harga ayam potong naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram.
Kondisi ini ikut menjadi perhatian pemerintah pusat. Kementerian Pertanian (Kementan) langsung memanggil pelaku usaha dan asosiasi peternak untuk mencari solusi menjaga stabilitas harga tanpa merugikan peternak.
Kementan menegaskan, telur dan daging ayam merupakan komoditas penting dalam ketahanan pangan nasional.
“Kami tidak ingin peternak menanggung fluktuasi harga sendirian. Pemerintah akan memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai pakan, DOC, hingga distribusi,” ujar Mentan dalam pernyataan resmi, Selasa (12/11).
Langkah cepat Kementan tersebut diapresiasi oleh pengusaha ayam dan telur dari Banyuwangi, Rindar Suhardiansyah. Ia menilai komunikasi langsung dengan pelaku usaha merupakan sinyal positif bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas pangan.
“Kami menghargai langkah konkret Kementan yang mau berdialog dengan pengusaha. Ini menunjukkan isu telur dan ayam memang diprioritaskan,” ujarnya.
Rindar menyebut, kebijakan membangun rantai terintegrasi dari pakan, Day Old Chick (DOC) -anak ayam umur sehari, hingga distribusi tol telur sejalan dengan visi Pehimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar).
“Tujuannya memperkuat peternak kecil dan menengah agar tidak terus tertekan fluktuasi harga,” tambah pengurus Pinsar ini.
Menurut Rindar, lonjakan harga pakan masih menjadi biang kerok ketidakstabilan harga ayam dan telur. Komponen pakan menyumbang hingga 80 persen dari total biaya produksi. Harga jagung pipilan di tingkat peternak kini berkisar Rp 6.300–6.700 per kilogram.
“Ketergantungan pada bahan impor seperti bungkil kedelai membuat biaya pakan sangat sensitif terhadap kurs dolar,” jelasnya.
Rindar juga menyoroti belum optimalnya program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Menurutnya, di lapangan harga pakan belum benar-benar turun.
Peternak kecil masih berat. Rindar berharap pemerintah segera menetapkan harga dasar otomatis ketika harga telur jatuh di bawah harga pokok produksi (HPP) Rp 22–24 ribu per kilogram.
Tanpa sistem penyangga, peternak kecil kerap merugi, sementara integrator besar masih bisa bertahan.
“Konsumsi naik hanya di momen Lebaran atau Natal. Di luar itu, pasar oversupply dan harga kandang bisa anjlok,” terangnya.
Ia juga menilai koordinasi lintas kementerian masih reaktif dan belum berbasis data real-time. “Kalau data produksi dan konsumsi lebih sinkron, kebijakan bisa lebih tepat sasaran,” imbuhnya.
Sebagai daerah dengan populasi unggas cukup besar di Jawa Timur, Rindar menilai Banyuwangi memiliki potensi menjadi penopang ketahanan pangan nasional.
“Sektor peternakan unggas harus ditempatkan sebagai bagian dari rencana strategis nasional. Potensinya besar, bisa jadi penopang ekonomi sekaligus stabilisator pangan,” pungkas Ketua REI Banyuwangi itu. (aif)
Editor : Ali Sodiqin