Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

IPOC 2025 Pecahkan Rekor! 1.545 Peserta dari 28 Negara Bahas Masa Depan Sawit Dunia di Bali

Ali Sodiqin • Jumat, 14 November 2025 | 02:50 WIB

Konferensi sawit dunia IPOC 2025 di Bali pecahkan rekor peserta. GAPKI dan pelaku global bahas masa depan industri sawit dan kebijakan global.
Konferensi sawit dunia IPOC 2025 di Bali pecahkan rekor peserta. GAPKI dan pelaku global bahas masa depan industri sawit dan kebijakan global.

RADARBANYUWANGI.ID - Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Kamis pagi (13/11).

Ajang bergengsi yang digelar pukul 10.00 WITA ini menjadi magnet bagi pelaku industri global.

Tahun ini, IPOC 2025 mencetak rekor baru dengan 1.545 peserta dari 28 negara dan dukungan sponsor terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan.

Pembukaan konferensi dihadiri pejabat tinggi negara, duta besar, pelaku industri, akademisi, hingga lembaga internasional.

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Pelaksana IPOC 2025 Mona Surya menegaskan bahwa perjalanan dua dekade konferensi ini mencerminkan kekuatan komunitas sawit dunia.

“Setiap tahun, ketika saya berdiri di panggung ini, saya selalu merasakan kebanggaan besar. IPOC adalah homecoming tahunan kita. Dari awal yang sederhana, kini menjadi ajang global yang ditunggu dunia,” ujar Mona.

Menurutnya, kekuatan utama IPOC ada pada interaksi lintas negara yang melahirkan kolaborasi baru.

Tema tahun ini, “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade”, dipilih karena mencerminkan realitas industri yang semakin kompleks.

“Industri sawit sedang berada di persimpangan jalan. Kita menghadapi volatilitas harga, stagnasi produksi, dan tantangan regulasi global seperti EUDR. Kebijakan nasional dan internasional kini membentuk arah operasional kita,” jelas Mona.

Tingginya antusiasme juga tampak dari 113 booth pameran dan 38 perusahaan sponsor. Mona menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dari kategori Titanium hingga Gold, serta tim panitia yang bekerja sepanjang tahun.

Sementara itu, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono dalam pidatonya menyoroti kinerja positif industri sawit nasional hingga September 2025.

“Detak industri kita sangat kuat: produksi sudah menembus 43 juta ton, naik 11%. Ekspor mencapai lebih dari 25 juta ton, meningkat 13,4%, dan menyumbang USD 27,3 miliar devisa, atau 40% lebih tinggi dari tahun lalu,” papar Eddy.

Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa capaian tersebut harus diiringi langkah strategis menghadapi stagnasi produktivitas dan regulasi baru di pasar global.

Ia menyoroti potensi besar dari Indonesia–EU CEPA yang membuka akses ekspor lebih luas, namun juga memperingatkan dampak dari EU Deforestation Regulation (EUDR).

“Kita harus menjawab tantangan dengan standar yang lebih baik. ISPO harus menjadi global gold standard agar dunia melihat keberlanjutan sebagai komitmen nyata, bukan sekadar slogan,” tegasnya.

Eddy juga menyoroti pentingnya peremajaan perkebunan untuk menjaga produktivitas jangka panjang. “Kita tak bisa mengandalkan mesin lama untuk menggerakkan masa depan,” ujarnya.

Kebijakan biofuel B35 dan B40 pun disebut berperan penting menjaga permintaan domestik dan menekan emisi nasional.

GAPKI, kata Eddy, juga terus memperkuat kolaborasi riset dan inovasi, termasuk melalui Hackathon Sawit Nasional 2025 yang diikuti 139 tim dari 35 universitas.

Pemenangnya, Tim BiFlow dari ITS Surabaya, menghadirkan inovasi RAPIDS, teknologi berbasis machine learning untuk mendeteksi penyakit sawit Ganoderma Boninense.

Selain itu, Elaeidobius Consortium yang menggandeng Tanzania Agricultural Research Institute diperkenalkan untuk meningkatkan penyerbukan alami sawit.

Konferensi IPOC 2025 akan berlangsung 13–14 November 2025, menghadirkan pembicara dunia seperti Thomas Mielke (Oil World), Julian Conway McGill (Glenauk Economics), dan Ryan Chen (Cargill China).

Forum ini diharapkan menjadi penentu arah strategis industri sawit global tahun 2026. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#sawit #IPOC 2025 #Indonesian Palm Oil Conference