Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pasar Kripto Berdarah! Bitcoin Terkapar ke US$104 Ribu, Sentimen Investor Masuk Zona Takut Ekstrem

Ali Sodiqin • Rabu, 5 November 2025 | 16:00 WIB
ILUSTRASI bitcoin, salah satu mata uang kripto.
ILUSTRASI bitcoin, salah satu mata uang kripto.

RADARBANYUWANGI.ID – Pasar aset kripto kembali berdarah pekat pada awal pekan ini.

Seluruh jajaran aset digital, dari Bitcoin hingga altcoin spekulatif, tertekan hebat akibat aksi jual masif yang mengguncang pasar global.

Berdasarkan data CoinMarketCap per Selasa (4/11/2025), harga Bitcoin (BTC) ambruk lebih dari 3%, turun dari US$108.000 ke titik terendah harian di US$104.178, sebelum sedikit rebound ke kisaran US$104.700.

Koreksi ini menyeret kapitalisasi pasar kripto global turun tajam dari US$3,48 triliun menjadi US$2,08 triliun.

Raksasa Kripto Tumbang

Dominasi Bitcoin tak mampu menahan tekanan jual. Sang ‘Raja Kripto’ kini tercatat turun lebih dari 8% dalam sepekan, dan diprediksi bisa jatuh hingga US$88.000 jika gagal bertahan di atas level support US$100.000.

Ethereum (ETH), altcoin terbesar, ikut terpuruk 5% ke US$3.500, sementara BNB dan XRP masing-masing terkoreksi 7% dan 5%.

Nasib paling suram dialami Solana (SOL), yang terjun bebas 9% dalam 24 jam terakhir, menjadikannya salah satu “pecundang” utama pekan ini.

Ketakutan Ekstrem dan Aksi Jual Besar

Aksi jual besar-besaran ini membuat Crypto Fear and Greed Index anjlok ke skor 21 dari 100, menandakan kondisi “extreme fear” atau ketakutan ekstrem.

Angka ini menjadi yang terendah dalam tujuh bulan terakhir, terakhir kali tercatat saat gejolak pasar global pada April 2025.

Sejumlah analis menyebut penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi global dan ketatnya likuiditas pasca sikap hati-hati Federal Reserve (The Fed).

Meski The Fed telah memangkas suku bunga, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell bahwa belum ada jaminan pemangkasan lanjutan membuat pasar kehilangan harapan akan kebijakan moneter longgar.

“Dengan likuiditas yang ketat dan ketidakpastian makro, Bitcoin sebagai aset risk-on mengalami tekanan serius,” ujar Fahmi Almuttaqin, analis kripto dari Reku.

Dana Institusional Kabur, DeFi Diterpa Peretasan

Data Farside menunjukkan aliran keluar dana institusional dari ETF Bitcoin Spot di AS mencapai US$1,15 miliar pekan lalu.

Tekanan bertambah setelah kabar peretasan protokol DeFi Balancer yang menyebabkan kerugian hingga US$128 juta atau sekitar Rp2,1 triliun.

Gabungan antara keluarnya dana besar, risiko keamanan DeFi, dan ketidakpastian kebijakan moneter membuat pasar kripto berada dalam posisi rentan.

Masih Ada Harapan?

Meski begitu, sebagian analis menilai koreksi saat ini belum menandai berakhirnya siklus bullish Bitcoin.
Data dari Glassnode menunjukkan tren akumulasi jangka panjang masih berlanjut, menandakan investor besar memilih menahan aset mereka di luar bursa.

“Kondisi ini bisa jadi fase jeda sebelum kenaikan berikutnya,” tambah Fahmi.

Dengan peluang pemangkasan suku bunga tambahan di Desember dan potensi “Santa Rally” di akhir tahun, sebagian pelaku pasar masih melihat ruang pemulihan harga di kisaran US$107.500 – US$123.000. (*)


Editor : Ali Sodiqin
#kripto #Solana #ethereum #pasar kripto #bitcoin