RADARBANYUWANGI.ID - Selama September 2025, di Kabupaten Banyuwangi terjadi deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,22 persen, dengan bawang merah sebagai penyumbang deflasi paling besar, yaitu 0,13 persen.
Untuk penyumbang inflasi paling besar, jatuh pada daging ayam dengan kontribusi sebesar 0,03 persen.
Kondisi ini disebabkan selama September 2025 harga daging ayam mengalami kenaikan.
Harga tertinggi di Pasar Srono mencapai Rp 37 ribu per kilogram. “Bulan lalu memang naik, saat ini mulai turun lagi,” kata salah satu pedagang daging ayam, Aminah, 45 tahun.
Menurut Aminah, di awal September harga daging ayam masih Rp 29 ribu per kilogram.
Namun, pada pertengahan bulan, mulai 15 hingga 23 September, harganya naik menjadi Rp 37 ribu per kilogram.
“Saat ini (kemarin) harganya sudah mulai turun, yaitu Rp 32 ribu per kilogram,” ujarnya seraya mengatakan kemungkinan harga akan turun lagi.
Pedagang lainnya, Muslikah, 54 tahun, menyampaikan fenomena kenaikan harga daging ayam ini terjadi setiap tahun saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, pedagang daging ayam di Pasar Srono sudah tidak kaget dengan kondisi ini.
“Setiap tahun seperti ini. Perayaan Maulidan jadi tanda harga daging ayam naik. Selain itu, biasanya tahun baru dan bulan puasa menjelang hari raya juga naik,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Selain itu, jelasnya, tingginya permintaan masyarakat juga menjadi faktor kenaikan harga.
Diduga, selain karena perayaan Maulid, pada bulan tersebut banyak warga yang mengadakan acara pesta.
“Banyak orang punya hajatan seperti mantenan dan sunatan, jadi peminat daging ayam banyak. Kesempatan pedagang untuk menaikkan harga,” ungkapnya.
Editor : Agung Sedana