RADARBANYUWANGI.ID - Permintaan telur di Banyuwangi meningkat signifikan selama September. Seiring maraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut masih cukup tinggi.
Hal itu didorong digelarnya tradisi endhog-endhogan di berbagai pelosok Bumi Blambangan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop UMP) Banyuwangi Nanin Oktaviantie membenarkan adanya peningkatan signifikan konsumsi telur di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.
Menurutnya, tren ini sudah terlihat sejak Agustus dan mencapai puncaknya pada September.
Nanin menyebut, banyak wqarga membeli telur untuk keperluan endhog-endhogan.
“Selama dua bulan terakhir konsumsi telur memang meningkat. Saat operasi pasar, komoditas telur selalu menjadi buruan warga. Bahkan dalam satu kali operasi pasar, kami pernah menjual hingga 150 kilogram telur hanya dalam waktu satu jam,” ungkapnya.
Tingginya permintaan membuat telur menjadi komoditas wajib dalam setiap operasi pasar yang digelar Diskop UMP.
Hal ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pasokan dengan harga terjangkau saat terjadi lonjakan konsumsi musiman.
“Selain kebutuhan konsumsi rumah tangga, budaya masyarakat Banyuwangi juga berpengaruh besar pada tingginya permintaan telur di pasar,” tambah Nanin.
Peningkatan konsumsi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir September mengingat perayaan Maulid Nabi Muhammad di Banyuwangi digelar hampir di seluruh pelosok daerah secara bergiliran.
"Operasi pasar terus kami dorong untuk menstabilkan harga di lapangan, termasuk harga beras dan telur," pungkasnya. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin