RADARBANYUWANGI.ID - Pasar Wit-Witan bukan hanya menawarkan wisata kuliner bernuansa pedesaan, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Setiap kali digelar, pasar yang berada di bawah rindangnya pepohonan ini mampu menghidupkan denyut ekonomi warga sekitar.
Deretan pedagang aneka jajanan seperti cenil, tiwul, gethuk, kucur, tersaji di Pasar Wit-witan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur.
Tidak hanya itu, aneka hidangan berat seperti nasi pecel, sego cawuk, sate, dan sebagainya juga tersedia. Menggugah selera pengunjung pasar kuliner yang buka setiap Minggu pagi tersebut.
Tidak hanya makanan, sejumlah pedagang juga menawarkan aneka minuman, seperti es dawet dan lain sebagainya. Belum cukup? Tersedia pula produk hasil bumi hingga barang kerajinan.
Tingginya minat pengunjung membuat omzet pedagang di Pasar Wit-witan terbilang tinggi. Bahkan, beberapa pedagang mengaku bisa meraup penghasilan hingga Rp 2 juta dalam sehari.
“Alhamdulillah, sejak ada pasar ini bisa bantu perekonomian. Bisa dapat dua juta sehari, padahal biasanya kalau jualan di rumah paling Rp 200 ribu. Ini sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Ismiyatun, salah satu pedagang kue tradisional pada Minggu (21/9).
Hal serupa juga dirasakan oleh Hermauki, pedagang lontong jangan khas Banyuwangi. Dia mengaku meraup omzet Rp 2 juga hingga Rp 3 juta sehari.
“Jauh lebih banyak ketimbang berjualan di warung rumah saya. lumayan untuk tambah-tambah,” tuturnya.
Daya tarik pasar ini tidak hanya pada menunya yang khas, tetapi juga konsep pedesaan plus rindang pepohonan yang menjadi ciri utama.
Banyak wisatawan dari luar daerah sengaja datang untuk berbelanja sekaligus menikmati suasana pasar yang menyatu dengan alam.
Tak hanya menyajikan kuliner, pasar Wit-witan juga menjadi sarana untuk menguri-uri budaya warga setempat.
Sejumlah warga berdandan ala Kebo-keboan yang menjadi ikon Desa Alasmalang. Tentu kehadiran Kebo-keboan tersebut menarik perhatian pengunjung, tak jarang wisatawan meminta untuk berfoto bersama.
“Baru kali ini lihat bentuk Kebo-keboan secara dekat karena kalau di perayaan juga belum pernah lihat. Makanya mumpung bisa, foto di sini, “ ujar Rini, warga Srono yang sedang berkunjung bersama kelurganya.
Keberadaan Pasar Wit-witan tidak hanya menguntungkan pedagang, tetapi juga membuka peluang bagi petani lokal dan perajin desa untuk memperluas pemasaran produk mereka.
Dengan omzet yang bisa mencapai jutaan rupiah per hari, pasar ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pariwisata Banyuwangi yang berbasis kearifan lokal. (Dalila Adinda/sgt)
Editor : Ali Sodiqin