RADARBANYUWANGI.ID - Harga sejumlah bumbu dapur di Pasar Induk Genteng 1, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, yang sebulan terakhir cenderung tinggi, mulai turun dalam sepekan terakhir. Salah satunya adalah bawang merah yang banyak diburu masyarakat Banyuwangi.
Setelah pembukaan Jalur Gumitir yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi, harga bawang merah langsung merosot.
“Bawang merah sudah mulai turun, saat Jalur Gumitir ditutup sempat mahal,” kata petugas Pasar Genteng 1, Arif Kurniawan.
Kepada Jawa Pos Radar Genteng, Arif menyebut penurunan harga bawang merah itu terjadi seiring normalnya pasokan setelah jalur kembali dibuka.
Saat ini, harga bawang merah dipatok Rp28 ribu per kilogram. “Sebelumnya harga bawang merah rata-rata Rp46 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram. Akhir bulan lalu bahkan sempat Rp50 ribu,” jelasnya.
Menurut Arif, lonjakan harga itu dipicu putusnya akses lalu lintas di jalur selatan Banyuwangi. Pasokan terbesar bawang merah ke Banyuwangi berasal dari Probolinggo dan Nganjuk.
“Karena akses terputus akibat Jalur Gumitir, harga di sini langsung melonjak karena stok minim. Itu bisa teratasi setelah jalan kembali dibuka,” tandasnya.
Salah satu pedagang bumbu dapur, Rosianti, 50, warga Desa Genteng Kulon, mengatakan harga bawang merah turun secara bertahap.
“Awal September sudah mulai turun, kemudian setelah jalur dibuka langsung turun ke Rp38 ribu per kilogram,” ujarnya.
Ia menambahkan, penurunan harga bawang merah berdampak pada daya beli masyarakat. Saat harga tinggi, pelanggannya banyak yang mengurangi pembelian.
“Ibaratnya kalau biasanya orang beli bisa 10 kilogram, sekarang sekali beli hanya separonya,” katanya.
Rosianti juga menyebut sebagian besar pembelinya adalah pedagang dari pasar lain seperti Pasar Sempu dan Gendoh, Kecamatan Sempu.
“Keluhan pembeli saat harga mahal sama saja. Termasuk pembeli rumah tangga untuk kebutuhan masak, mereka juga mengurangi pembelian karena harganya terlalu tinggi,” ungkapnya.
Editor : Agung Sedana