Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Jumputan Beras ke Omzet Rp12 Juta! Kisah Inspiratif Ferdiansyah Bangun Pay Farm Hidroponik Banyuwangi

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 15 September 2025 | 14:59 WIB
PEMUDA INSPIRATIF: Alumni Jagoan Tani 2021 Ferdiansyah (kanan) kini telah berhasil mengembangkan bisnis hidroponik sayur selada yang menembus pasar luar daerah.
PEMUDA INSPIRATIF: Alumni Jagoan Tani 2021 Ferdiansyah (kanan) kini telah berhasil mengembangkan bisnis hidroponik sayur selada yang menembus pasar luar daerah.

RADARBANYUWANGI.ID - Ferdiansyah, pemuda Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, mengawali gerakan sosial Pay Aria dengan jumputan beras untuk duafa.

Tahun 2017 ia beralih ke hidroponik, hingga lahirlah Pay Farm. Mengelola 11.200 lubang tanam, Ferdi meraih omzet Rp 12 juta per bulan dan memasok pasar lokal hingga Surabaya.

Di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, kehidupan sehari-hari warganya tak lepas dari kisah perjuangan. Setelah lulus sekolah, mayoritas penduduk yang bertempat tinggal di wilayah perkebunan tebu tersebut memilih merantau ke kota.

Mereka yang tinggal, sebagian besar adalah perempuan yang berstatus janda, juga kaum duafa yang berjuang menghidupi keluarga dengan segala keterbatasan.

Kondisi inilah yang mendorong Ferdiansyah yang kala itu berusia 34 tahun untuk bergerak. Pada 2016, ia menginisiasi berdirinya perkumpulan sosial bernama Pay Aria. Perkumpulan ini sama sekali tidak berorientasi bisnis.

Kegiatannya sederhana: mengajak warga jumputan, yakni menyisihkan beras setiap kali masak. Beras-beras itu kemudian dikumpulkan, dijual dengan harga murah, dan hasil penjualannya dipakai untuk membantu fakir miskin di desanya.

“Awalnya hanya dari kepedulian. Saya melihat banyak orang sekitar yang butuh bantuan. Kalau hanya menunggu, mereka akan makin terpuruk. Jadi saya pikir, kita bisa melakukan sesuatu meski kecil,” tutur Ferdi.

Langkah kecil itu perlahan mendapat respons positif. Warga mulai terbiasa menyisihkan sedikit beras.

Pay Aria pun berkembang menjadi gerakan sosial yang memberi harapan. Namun di benak Ferdi, muncul satu pertanyaan penting: sampai kapan bantuan harus bergantung pada donasi?

Pada 2017, jawaban itu muncul dalam bentuk percobaan bisnis hidroponik. Dengan modal kas hasil dari penjualan beras, Ferdi bersama anak-anak yatim binaan Pay Aria membangun instalasi hidroponik sederhana dengan 400 lubang tanam.

 “Kalau kita bergantung pada orang, maka bantuan yang kita berikan terbatas. Karena itu saya ajak anak-anak Pay Aria untuk bikin usaha. Kalau ada hasil, manfaatnya bisa lebih luas,” kata Ferdi.

Namun, perjalanan tidak mudah. Saat itu selada keriting hidroponik belum familiar di kalangan masyarakat sekitar. Sayur ini lebih banyak dipakai untuk makanan seperti kebab atau burger yang kala itu belum begitu populer di desa. Pasarnya pun sangat terbatas, hanya kota-kota besar.

Ferdi tidak menyerah. Ia mencari cara agar produknya bisa diterima pasar. Caranya, ia bergabung dengan komunitas petani hidroponik di Banyuwangi. Dari sana, ia belajar banyak hal sekaligus membuka relasi baru.

Perlahan, jaringan pasar mulai terbentuk dan usahanya pun tumbuh. Tak disangka, dari hanya 400 lubang tanam, bisnis hidroponik itu bisa menghasilkan omzet hingga Rp 7 juta per bulan.

Pada 2019, Ferdi mendapat kesempatan mengikuti Agribusiness Startup Competition Banyuwangi. Dari kompetisi itu, ia memperoleh masukan penting dari Dinas Pertanian: usaha sosial dan bisnis sebaiknya dipisahkan agar keduanya bisa fokus berkembang. Saran itu menjadi titik balik.

Pay Aria tetap berjalan sebagai wadah sosial yang fokus membantu duafa sedangkan usaha hidroponiknya resmi berdiri sendiri dengan nama Pay Farm.

Transformasi ini semakin memperkuat langkah Ferdi. Pada 2021, ia ikut ajang Jagoan Tani dan berhasil meraih juara dua. Dari kompetisi tersebut, ia menerima dana pengembangan sebesar Rp 25 juta serta bimbingan intensif dari para mentor.

“Banyak banget pembelajaran dari mentor Jagoan Tani. Arahan mereka membuka wawasan saya untuk mengembangkan bisnis lebih jauh lagi,” ujarnya.

Kini, Pay Farm menjelma menjadi usaha hidroponik yang solid. Ferdi telah memiliki 28 meja tanam, masing-masing berisi 400 lubang, sehingga total ada sekitar 11.200 lubang hidroponik yang aktif ditanami.

“Dari hasil panen Pay Farm ini kami sisihkan 5 persen tiap penjualan untuk tetap memberi ke duafa karena bagaimanapun sejak awal niat kami membantu mereka. Bisnis ini ada juga karena mereka, jadi bagaimana pun tetap kami berikan juga untuk mereka,” ungap Ferdi

Produk utama Par Farm adalah selada keriting. Satu ikat selada dijual dengan harga Rp 20 ribu. Dari situ Pay Farm mampu meraup omzet hingga Rp 12 juta setiap bulan. Pasarnya pun semakin luas.

Sekitar 50 persen hasil panen dikirim rutin ke Surabaya untuk memenuhi kontrak dengan beberapa outlet salad sayur. Sebagian lagi dipasok ke UMKM lokal yang bergerak di bisnis kebab dan burger. Sisanya dijual di pasar konvensional, menjangkau konsumen rumah tangga.

Perjalanan Ferdiansyah membuktikan bahwa langkah sosial bisa berkembang menjadi usaha berkelanjutan yang memberdayakan banyak orang.

Dari sebuah gagasan kecil tentang jumputan beras, kini lahirlah bisnis hidroponik yang memberi manfaat nyata, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga untuk masyarakat luas.

“Sabar, terus berusaha, belajar, dan konsisten adalah kunci dari keberhasilan. Kalau kita berhenti di tengah jalan, semua tidak akan jadi apa-apa,” kata Ferdi.

Kisah Ferdiansyah menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang, cukup dari niat sederhana untuk membantu sesama, jalan menuju perubahan besar itu terbuka. (Dalila Adinda/*)

Editor : Ali Sodiqin
#jagoan bisnis #Jagoan Digital #jagoan banyuwangi #jagoan tani