RADARBANYUWANGI.ID - Populasi sapi di Pasar Hewan Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore kembali stabil. Setelah Jalur Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dan Jember dibuka, para pedagang dan tengkulak ternak, khususnya sapi dari luar kota banyak yang berdatangan ke Kota Gandrung, kemarin (12/9).
Sebelumnya, selama sebulan sejak jalur utama itu ditutup, para pembeli sapi yang mayoritas berasal dari Kota Malang, Jombang, dan Probolinggo absen di Pasar Hewan Glenmore yang rutin buka setiap Jumat itu.
Ini membuat jumlah sapi yang dibawa pedagang ke pasar mengalami penurunan drastis.
“Hari ini sudah mulai ada yang dari luar kota. Ini minggu pertama karena yang minggu lalu bertepatan dengan libur maulid,” kata petugas pasar, Agung, 33.
Menurut Agung, pada Jumat ini ada empat truk dari luar Banyuwangi yang datang untuk membeli sapi di pasar.
Merek aitu dari Jombang, satu truk dari Malang, dan satu truk lagi dari Probolinggo.
“Mulai tadi lumayan ramai, saat tutup (Jalur Gumitir) yang datang hanya pembeli dan peternak lokal,” cetusnya.
Agung menyampaikan, pada pasaran kemarin populasi sapi di Pasar Hewan Glenmore menyentuh angka 110 ekor.
Angka itu terbilang meningkat dibanding sebelumnya.
“Biasanya hanya kisaran 80 atau 90 ekor saja. Jumlah sapi yang rendah itu diperparah dengan menurunnya daya beli,” tandasnya.
Sayangnya, jumlah sapi tersebut masih belum bisa mengakomodir kebutuhan para pembeli lantaran minimnya bibitan sapi. Hal itu, kata Agung, kerap dikeluhkan oleh pembeli yang datang.
“Keluhannya barang dari peternak itu sedikit, ini juga membuat harga meningkat,” katanya.
Salah satu pedagang sapi, Nawawi, 51, asal Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore mengatakan, harga sapi limousine usia satu tahun yang semula Rp 11 juta sampai Rp 12 juta, kini naik menjadi Rp 15 juta.
“Karena barangnya sedikit ya naik, ada yang jual Rp 16 juta juga,” tandasnya.
Editor : Agung Sedana