Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Banyuwangi ke Jepang dan Australia! Sale Naga Karya Ahmad Maulana Angkat Derajat Buah Naga

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 9 September 2025 | 12:30 WIB
ALUMNI JAGOAN TANI: Ahmad Maulana (kanan) foto bareng dengan Menko Pangan Zulkifli Hasan saat kunjungan di Desa Gumuk, Licin pada bulan Juli 2025 lalu.
ALUMNI JAGOAN TANI: Ahmad Maulana (kanan) foto bareng dengan Menko Pangan Zulkifli Hasan saat kunjungan di Desa Gumuk, Licin pada bulan Juli 2025 lalu.

RADARBANYUWANGI.ID - Ahmad Maulana berhasil mengangkat derajat buah naga yang kerap anjlok harganya saat panen raya melalui inovasi produk olahan sale naga.

Berawal dari keluhan para petani tentang harga buah yang merosot akibat oversupply, Ahmad yang juga petani buah naga tergerak mencari solusi agar hasil panen tetap bernilai.

Di tangan Ahmad Maulana, 33, buah naga yang dulu sering dianggap bernilai rendah saat musim panen kini menjelma produk olahan bernilai jual tinggi.

Pemilik rumah produksi sekaligus pusat oleh-oleh ”Oreng Oseng” di Dusun Kaligondo, Desa Wadungdolah, Kecamatan Genteng itu membuktikan bahwa kreativitas dan kegigihan bisa mengubah keluhan petani menjadi peluang emas.

Sejak 2023, Ahmad memutuskan untuk merambah bisnis budidaya buah naga. Sebagai petani pemula, ia segera menyadari persoalan klasik yang dihadapi para petani di daerahnya. Harga buah naga anjlok ketika musim panen tiba.

“Banyak petani mengeluh, terutama saat panen terjadi oversupply. Harga jadi jatuh. Apalagi kalau kualitasnya rendah, grade BS biasanya hanya jadi pakan ternak,” ujarnya.

Sebagai pelaku usaha yang juga terjun langsung di lapangan, Ahmad merasakan sendiri dampak situasi itu. Tidak ingin pasrah pada kondisi, ia bersama tim di ”Oreng Oseng” berusaha mencari solusi. ”Kami berpikir, kenapa tidak dijadikan sale saja, seperti pisang. Dari situ kami mulai bereksperimen,” katanya.

Proses menemukan formula yang pas bukan perkara mudah. Ahmad membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk melakukan berbagai percobaan.

Mulai dari teknik pengeringan, pengaturan suhu, hingga rasa dan tekstur yang dihasilkan. Semua dijalani dengan sabar melalui trial and error.

Hingga akhirnya lahirlah produk yang diberi nama sale naga. Inovasi ini tak hanya berhasil mengangkat buah naga kualitas rendah menjadi produk bernilai, tetapi juga langsung mendapat sambutan positif dari pasar.

Peminatnya terus bertambah, baik dari konsumen lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

“Awalnya kami tidak menyangka peminatnya sebanyak itu. Ternyata banyak yang penasaran, dan setelah mencoba, mereka suka,” ungkap Ahmad.

Kesuksesan awal itu mendorong Ahmad untuk membawa produk sale naga ke ajang Jagoan Tani pada 2024.

Program tersebut memberikan ruang bagi petani muda dan pelaku usaha di sektor pertanian untuk mengembangkan ide bisnisnya.

Keputusan itu terbukti tepat. Ahmad tidak hanya berhasil masuk jajaran lima terbaik, tapi juga memperoleh banyak ilmu dan jejaring baru.

“Dua hal yang paling berpengaruh dari Jagoan Tani adalah mental bisnis saya jadi lebih kuat, dan jejaring usaha semakin luas,” katanya.

Dari jaringan inilah, pintu pasar internasional mulai terbuka. Ahmad mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM untuk memasarkan sale naga melalui jejaring diaspora Indonesia di Jepang dan Australia

Kini, sale naga buatan Ahmad telah resmi menembus pasar ekspor. Produk olahan buah naga dari Banyuwangi itu dikirim ke Jepang dan Australia, negara yang dikenal memiliki standar kualitas pangan cukup ketat.

Keberhasilan ini memberikan dampak nyata bagi usaha Ahmad. Omzet penjualan rumah produksinya meningkat hingga tiga kali lipat dibanding sebelum mengikuti Jagoan Tani.

Tak hanya sale naga, produk lain di ”Oreng Oseng” pun ikut terdongkrak berkat jejaring yang semakin luas.

“Relasi dari program itu bukan hanya mendongkrak sale naga, tapi juga berdampak ke produk lain. Total pendapatan sekarang meningkat tiga kali lipat,” jelas Ahmad.

Baginya, kunci bisnis terletak pada arah yang jelas dan keyakinan penuh. “Bisnis itu setting-nya harus jelas. Kita yakin, dan kita sandingkan di mana sale naga ini menjadi ciri khas Banyuwangi,” ujarnya mantap.

Inovasi Ahmad turut menuai perhatian Pemkab Banyuwangi. Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Ilham Juanda menilai langkah tersebut sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah buah naga.

“Banyuwangi merupakan sentra buah naga. Dengan pengembangan produk olahan seperti sale naga, petani memiliki alternatif selain menjual buah segar. Ini jelas memberi nilai tambah ekonomi yang cukup menguntungkan,” ujar Ilham.

Menurutnya, kehadiran produk olahan seperti ini akan membantu petani menghadapi persoalan klasik harga anjlok saat panen raya.

“Hal ini juga membuktikan inovasi para Jagoan Banyuwangi terus berkembang sejalan dengan dinamika dunia bisnis yang senantiasa berubah,” tambahnya.

Kini, sale naga bukan sekadar produk olahan, melainkan simbol transformasi, dari keluhan petani menjadi peluang global.

Lewat kerja keras, kreativitas, dan jejaring yang kuat, Ahmad berhasil membuktikan bahwa buah lokal Banyuwangi mampu bersaing hingga menembus pasar dunia.

Di balik keberhasilannya, tersimpan pesan sederhana: masalah yang dihadapi petani bisa menjadi sumber ide besar bila diolah dengan kreativitas dan semangat pantang menyerah.

Dari sebuah desa di Genteng, Banyuwangi, kini aroma manis sale naga merambah hingga Jepang dan Australia. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#jagoan bisnis #Jagoan Digital #jagoan banyuwangi #jagoan tani