RADARBANYUWANGI.ID - Dunia pasar modal Tanah Air kembali diramaikan dengan rencana sejumlah perusahaan yang siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2025.
Fenomena Initial Public Offering (IPO) ini selalu menarik perhatian investor, sebab menawarkan peluang besar untuk cuan, sekaligus risiko yang tak bisa diabaikan.
IPO sendiri merupakan proses ketika perusahaan swasta untuk pertama kalinya melepas saham ke publik.
Langkah ini umumnya bertujuan menghimpun modal tambahan untuk ekspansi usaha, mengurangi utang, sekaligus memberi kesempatan bagi investor awal untuk merealisasikan keuntungan.
Cara Cek Saham IPO
Investor bisa memantau perkembangan IPO melalui berbagai kanal resmi. Antara lain:
-
Website BEI (idx.co.id) – Tersedia menu Pencatatan Perdana yang menampilkan daftar emiten, lengkap dengan prospektus dan jadwal IPO.
-
Portal e-IPO (e-ipo.co.id) – Menyediakan informasi perusahaan yang sedang membuka penawaran saham, termasuk jadwal resmi.
-
Aplikasi Sekuritas – Broker kini punya fitur khusus IPO, bahkan dilengkapi notifikasi agar investor tak ketinggalan momentum.
Tujuh Calon Emiten Siap Go Public
BEI mencatat ada tujuh perusahaan dalam pipeline IPO September 2025. Tiga di antaranya merupakan perusahaan beraset besar dengan nilai di atas Rp250 miliar. Empat lainnya termasuk kategori menengah dengan aset Rp50–250 miliar.
Salah satu yang paling disorot adalah anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang mengelola Proyek Emas Pani di Gorontalo.
IPO perusahaan ini dikabarkan sudah memasuki tahap registrasi kedua di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain itu, ada pula perusahaan dari OT Group yang disebut-sebut akan ikut melantai, meski pihak manajemen menegaskan masih fokus pada konsolidasi internal.
Menarik, Tapi Penuh Risiko
Saham IPO sering dipandang menggiurkan karena kerap ditawarkan dengan harga awal rendah dan berpotensi naik drastis saat perdagangan perdana. Namun, euforia sesaat bisa berbalik arah menjadi kerugian jika harga anjlok setelah listing.
Apalagi, sebagian besar perusahaan baru belum memiliki rekam jejak kinerja publik yang panjang. Informasi prospektus juga bisa terlalu optimistis.
Karena itu, investor diingatkan untuk tetap melakukan analisis mendalam serta manajemen risiko yang matang sebelum memutuskan membeli saham IPO.
Dengan semakin banyaknya emiten baru, September 2025 diprediksi akan menjadi bulan yang sibuk sekaligus menentukan bagi pergerakan pasar modal Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin