RADARBANYUWANGI.ID - Berdasarkan data terbaru per 13:00 WIB, harga rata-rata beras premium di beberapa provinsi terpantau jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kondisi ini mengindikasikan tekanan signifikan pada harga komoditas pangan pokok di berbagai daerah.
Data menunjukkan bahwa Provinsi Papua Pegunungan menjadi wilayah dengan disparitas harga terbesar, mencapai 26,58% di atas HET.
Dengan HET nasional sebesar Rp13.900, harga rata-rata beras di Papua Pegunungan tercatat sekitar Rp20.000 per kilogram.
Disparitas ini menunjukkan tantangan logistik dan distribusi yang serius di wilayah tersebut.
Di sisi lain, beberapa provinsi berhasil menjaga harga beras di bawah HET, bahkan mencatat selisih negatif.
Jawa Tengah menjadi salah satu yang menonjol dengan disparitas harga -0,01% di bawah HET, yang berarti harga rata-rata hampir sama persis dengan HET.
Provinsi dengan Kenaikan Harga Sangat Tinggi (Lebih 10%)
Provinsi-provinsi ini menghadapi tantangan harga yang paling serius, dengan harga rata-rata jauh di atas HET, mencapai kenaikan lebih dari 10%.
- Papua Pegunungan: Disparitas 26,58% (Harga Rata-rata: Rp20.000)
- Papua: Disparitas 19,28% (Harga Rata-rata: Rp18.846)
- Maluku: Disparitas 18,94% (Harga Rata-rata: Rp18.793)
- Maluku Utara: Disparitas 17,72% (Harga Rata-rata: Rp18.800)
- Kalimantan Timur: Disparitas 14,55% (Harga Rata-rata: Rp17.641)
- Papua Barat: Disparitas 13,92% (Harga Rata-rata: Rp18.000)
- Kalimantan Tengah: Disparitas 12,3% (Harga Rata-rata: Rp16.732)
- Sulawesi Utara: Disparitas 11,53% (Harga Rata-rata: Rp16.618)
- Kalimantan Utara: Disparitas 10,96% (Harga Rata-rata: Rp17.088)
- Gorontalo: Disparitas 10,93% (Harga Rata-rata: Rp16.529)
Provinsi dengan Kenaikan Harga Moderat (Kurang 10%)
Harga beras di wilayah ini masih lebih tinggi dari HET, namun selisihnya tidak setinggi kelompok pertama.
- Sumatera Barat: Disparitas 8,69% (Harga Rata-rata: Rp16.739)
- Papua Barat Daya: Disparitas 8,5% (Harga Rata-rata: Rp17.143)
- Sulawesi Tenggara: Disparitas 8,5% (Harga Rata-rata: Rp16.167)
- Bali: Disparitas 7,38% (Harga Rata-rata: Rp16.000)
- Riau: Disparitas 6,79% (Harga Rata-rata: Rp16.204)
- Kalimantan Selatan: Disparitas 5,22% (Harga Rata-rata: Rp16.446)
- Nusa Tenggara Timur: Disparitas 5,08% (Harga Rata-rata: Rp16.183)
- Kepulauan Riau: Disparitas 4,42% (Harga Rata-rata: Rp16.081)
- Kepulauan Bangka Belitung: Disparitas 3,94% (Harga Rata-rata: Rp16.097)
- Bengkulu: Disparitas 3,81% (Harga Rata-rata: Rp15.986)
- Papua Selatan: Disparitas 3,37% (Harga Rata-rata: Rp16.333)
- Sulawesi Barat: Disparitas 2,68% (Harga Rata-rata: Rp15.300)
- Aceh: Disparitas 2,62% (Harga Rata-rata: Rp15.803)
- Banten: Disparitas 2,52% (Harga Rata-rata: Rp15.275)
- Sulawesi Selatan: Disparitas 1,97% (Harga Rata-rata: Rp15.194)
- Jawa Timur: Disparitas 1,89% (Harga Rata-rata: Rp15.182)
- DKI Jakarta: Disparitas 1,85% (Harga Rata-rata: Rp15.175)
- Jambi: Disparitas 0,91% (Harga Rata-rata: Rp15.540)
- Nusa Tenggara Barat: Disparitas 0,64% (Harga Rata-rata: Rp14.996)
- Jawa Barat: Disparitas 0,54% (Harga Rata-rata: Rp14.991)
Provinsi dengan Harga Mendekati atau di Bawah HET (Kurang 1%)
Provinsi-provinsi ini menunjukkan stabilitas harga yang paling baik, dengan harga rata-rata yang hampir sama atau bahkan lebih rendah dari HET.
- Jawa Tengah: Disparitas -0,01% (Harga Rata-rata: Rp14.899)
- Lampung: Disparitas -0,11% (Harga Rata-rata: Rp14.883)
- Sumatera Selatan: Disparitas -0,73% (Harga Rata-rata: Rp14.791)
- D.I Yogyakarta: Disparitas -2,86% (Harga Rata-rata: Rp14.474)
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa disparitas harga paling signifikan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua dan Maluku, kemungkinan besar karena tantangan distribusi dan logistik.
Sebaliknya, wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera menunjukkan kestabilan harga yang lebih baik.