RADARBANYUWANGI.ID - Syva Dila Kharisma, 25, petani muda asal Dusun Bayurejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi bidang yang menjanjikan.
Sejak 2018, ia mengambil alih kebun durian keluarga. Risma lalu mengembangkan wisata kebun hingga meraih berbagai prestasi seperti juara 1 Jagoan Tani 2022, Young Agricultural Ambassador 2023, dan pendiri P4S pada 2024.
Meski sempat diragukan dan menghadapi berbagai tantangan, Risma optimistis menjadikan durian Banyuwangi lebih dikenal luas sekaligus menjadikan pertanian sebagai bidang yang membanggakan.
Di usia 25 tahun, Risma sudah menorehkan jejak yang membanggakan sebagai petani muda durian.
Ia membuktikan bahwa pilihan untuk bertahan di kebun tidak selalu identik dengan hidup apa adanya. Dengan inovasi, semangat belajar, dan keberanian mengambil peluang, Risma berhasil membawa kebun durian keluarga yang awalnya sederhana menjadi usaha pertanian modern dengan jaringan pasar luas hingga ke luar daerah.
Berkat ketekunan berkebun durian, usahanya kini melesat dengan omzet mencapai Rp 180 juta per bulan. ”Saat ini saya mempekerjakan lebih dari 30 orang serta memperluas produk dari durian unggul hingga komoditas lain,’’ katanya.
Kisah perjuangannya bermula pada 2018. Saat itu, Risma baru saja lulus SMA. Namun, keadaan berbalik ketika ayahnya jatuh sakit.
Sebagai anak petani durian, ia tidak punya banyak pilihan selain turun tangan mengelola kebun. Awalnya, ia hanya berniat menjaga agar usaha keluarga tetap berjalan.
Namun siapa sangka, di tahun yang sama kebunnya kedatangan tamu istimewa. Rombongan satu bus dari Jakarta yang terdiri dari tokoh-tokoh ternama.
Dari momen itu, ia mendapat ide membuka wisata kebun durian agar masyarakat bisa merasakan pengalaman menikmati buah langsung dari pohonnya.
”Waktu itu Bapak saya lagi kena saraf terjepit dan tidak bisa jalan. Akhirnya saya yang menjamu tamu gantikan Bapak. Itu pertamanya saya dipercaya untuk mengurus di kebun sendirian,” tutur Risma.
Sejak saat itu, dia mulai terbiasa mengelola kebun durian milik keluarganya yang kurang lebih luasnya setengah hektare. Selama menggantikan ayahnya yang sakit, risma melakukan semua sendiri sembari kuliah.
Dia sempat merasa insecure dan pesimistis, lantaran di usianya yang masih sangat belia, harus turun langsung ke kebun dan berjualan durian langsung dari kebun.
“Dulu sempat dipandang sebelah mata sama oleh tetangga dan teman-teman. Mana mungkin menjual durian hanya di kebun saja. Tidak bakalan ada yang tertarik. Soalnya di pasar, bahkan pinggir jalan, durian lebih mudah didapat,” ungkapnya.
Tantangan mulai datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas wisata menurun drastis, namun Risma tak patah arang. Pada 2019, ia tetap melanjutkan kuliah sembari berjualan durian secara langsung.
Meski kondisi sulit, dia tetap terus melakukan penjualan duriannya melalui media sosial dan dibantu oleh Pemkab Banyuwangi.
“Alhamdulillah pas waktu pandemi, Bupati Banyuwangi saat itu Abdullah Azwar Anas, bersama jajaran Dinas Pertanian sempat berkunjung ke kebun. Dari kunjungan itu, kami dapat promosi secara tidak langsung dan akhirnya makin banyak pembeli online yang pesan,’’ kata Risma.
Semangat belajar membawa Risma mencoba peruntungan di ajang Jagoan Tani 2021. Meski harus menerima kenyataan gagal masuk 100 besar, ia tak berhenti di situ.
Tahun berikutnya, ia kembali mencoba, melakukan evaluasi, memperbaiki strategi, hingga akhirnya berhasil meraih juara 1 Jagoan Tani 2022.
“Kunci keberhasilannya adalah mengembangkan inovasi dari hulu hingga hilir. Tidak hanya menjual buah, tetapi juga memperhatikan perawatan, penanaman, hingga distribusi,” ujarnya.
Mampu Menggaji Rp 15 Juta Per Mentor
Sejak ikut jagoan tani, prestasi Risma terus melesat. Tahun 2023, ia terpilih sebagai Young Agricultural Ambassador sekaligus meraih juara 2 Pemuda Pelopor Banyuwangi.
Setahun berselang, pada 2024, ia mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang difasilitasi pemerintah.
Lewat P4S, Risma tidak hanya mengelola usaha pribadi, tetapi juga mendidik dan melatih generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Perkembangan usahanya pun melesat cepat. Jika sebelum ikut Jagoan Tani ia hanya memperoleh omzet sekitar Rp 80 juta per tahun, kini pendapatannya melonjak drastis.
Risma mampu mencatat omzet hingga rata-rata Rp 180 juta per bulan. Dari kegiatan penjualan, Risma semakin memperlebar sayapnya.
Kini dia membuka wadah pelatihan pertanian dan kewirausahaan di bawah naungannya, bahkan ia mampu menggaji Rp 15 juta per mentor.
Usahanya juga makin beragam. Selain mengelola kebun durian, ia beternak 20 ekor domba dan merintis brand Mulya Karisma.
Kini Risma mengelola kebun durian dengan berbagai varietas unggul. Beberapa di durian unggulan di antaranya durian lokal khas Banyuwangi seperti Sikepodang, Si Ratu, dan Si Banteng. Selain itu jenis lain seperti Musangking dan Bawor yang banyak diminati pasar.
Ia juga aktif sebagai pengurus komunitas durian Banyuwangi, memperkuat jejaring antarpetani sekaligus menjaga kualitas buah.
Meski demikian, perjalanan Risma tidak selalu mulus. Ia pernah ditipu pembeli yang menolak membayar satu peti durian senilai lebih dari Rp 2 juta dengan alasan kualitas buah jelek.
Ia juga pernah mengalami salah kirim alamat, meski akhirnya tetap dibayar. Pengalaman pahit itu justru ia jadikan pelajaran penting untuk memperketat manajemen kualitas.
“Kalau mau kirim keluar kota, harus yakin bisa menjaga kualitas. Risiko memang ada, tapi harus berani,” katanya.
Kini, Risma mempekerjakan 16 orang di kebun dan 15 orang di bidang pelatihan. Tenaga kerja kerja itu menjadi bukti bahwa usahanya tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Ke depan, ia memiliki cita-cita besar, yaitu mendirikan kantor di kota Banyuwangi sebagai pusat pelatihan pertanian modern.
”Saya ingin agar pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan sebagai bidang yang menjanjikan dan membanggakan,’’ tandasnya. (Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin