Keren! Anak Muda Banyuwangi Raup Rp 24 Juta Sebulan dari Dendeng Daun Singkong

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 30 Agustus 2025 | 12:30 WIB
Daniel dan ibunya memamerkan produk dendeng daun singkong di rumah produksi mereka yang berhasil laris lewat penjualan online, Jumat (29/8).
Daniel dan ibunya memamerkan produk dendeng daun singkong di rumah produksi mereka yang berhasil laris lewat penjualan online, Jumat (29/8).

RADARBANYUWANGI.ID - Ahmad Daniel, 19, alumni Jagoan Tani 2023 asal Banyuwangi, sukses mengembangkan dendeng daun singkong sebagai alternatif dendeng sapi sejak 2022.

Berawal dari penjualan konvensional dengan omzet Rp 7 juta per bulan, bisnisnya melejit setelah ia belajar digital marketing lewat Jagoan Tani.

Hingga kini Daniel punya dua outlet. Omzet sebulan menembus Rp 24 juta. Produk dendeng daun singkong tak hanya menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, tapi juga mendorong anak muda lainnya menekuni bisnis UMKM.

Di usia 19 tahun, Daniel sudah membuktikan dirinya bukan sekadar anak muda biasa. Lahir dari keluarga pengusaha camilan tradisional di Banyuwangi, ia memilih jalan berbeda, yaitu  menciptakan olahan unik berupa dendeng daun singkong.

Ide itu muncul ketika ia masih duduk di bangku SMK. Saat teman sebayanya sibuk dengan tugas sekolah, Daniel justru sudah merintis usaha yang kini mulai dikenal hingga ke luar negeri.

“Orang tahu dendeng selalu identik dengan daging sapi yang mahal. Saya ingin bikin alternatif dari bahan murah tapi bergizi, akhirnya pilih daun singkong,” ungkap warga Perumahan Brawijaya Residence Blok A nomor 8 Banyuwangi itu.

Produk itu mulai dipasarkan sejak 2022. Meski masih sederhana, dengan hanya tiga orang karyawan dan sistem penjualan door to door, usaha dendeng daun singkong miliknya sudah bisa menghasilkan omzet rata-rata Rp 7 juta per bulan. Angka yang cukup menjanjikan bagi remaja seusianya.

Namun, perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Daniel yang memiliki latar belakang pendidikan Teknologi Informasi menyadari banyak UMKM di Banyuwangi yang lemah pada aspek kemasan.

Daniel pun mencoba memanfaatkan keahliannya untuk mendesain packaging baru yang lebih menarik sekaligus meningkatkan masa simpan produk.

“Saya lihat banyak produk UMKM tampilannya kurang menarik. Padahal kemasan itu pintu pertama untuk bikin orang mau membeli,” katanya.

Meski begitu, omzet tidak banyak berubah. Peningkatan kualitas produk dan kemasan ternyata belum cukup.

Promosi yang masih terbatas dan hanya mengandalkan titip jual di toko-toko membuat penjualannya stagnan.

Dari situlah ia sadar, tantangan terbesar bisnisnya bukan produksi, melainkan pemasaran.

Titik balik datang pada 2023. Daniel ikut program Jagoan Tani yang digagas Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Di ajang itu, ia berhasil menyabet juara 1 kategori favorit dan berhak membawa pulang pendanaan Rp 2,5 juta.

Lebih dari sekadar hadiah, program itu membuka mata Daniel tentang dunia digital marketing.

“Awalnya saya tidak percaya jualan online bisa lebih besar daripada offline. Tapi lewat mentor di Jagoan Tani saya belajar, ternyata justru omzet terbesar saya datang dari sana,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Daniel serius menggarap pasar digital. Ia rajin membuat konten promosi di TikTok, memanfaatkan e-commerce, hingga aktif membangun branding di media sosial.

Hasilnya nyata, penjualan dari TikTok kini bisa mencapai lebih dari Rp 100 ribu per hari. Produksi dendeng daun singkong yang semula hanya 10 kilogram sehari, kini bisa melonjak dua kali lipat ketika pesanan ramai.

Tak hanya penjualan online, bisnis offline Daniel juga ikut berkembang. Ia berhasil membuka dua outlet cabang di Banyuwangi. Tenaga kerja yang semula hanya tiga orang kini bertambah menjadi tujuh orang. Orang tua dan adiknya pun turut turun tangan membantu produksi.

Perubahan itu terasa nyata. Omzet meningkat, fasilitas produksi bertambah, bahkan Daniel sudah mampu membeli mesin press sendiri dari hasil penjualan.

Lebih dari itu, namanya mulai dikenal luas. Bukan hanya warga lokal, wisatawan domestik bahkan mancanegara kini datang langsung ke rumah produksinya.

“Kemarin ada turis Singapura datang jalan kaki ke sini, katanya tahu dari Google. Itu bikin saya semangat banget,” tutur Daniel sambil tersenyum.

Keterlibatannya di Jagoan Tani juga membukakan banyak pintu kolaborasi. Daniel kini sering diajak ikut pameran, berjejaring dengan sesama pengusaha muda, hingga berkesempatan bertukar ilmu dengan akademisi.

Dari pengalaman itu, ia semakin yakin bahwa UMKM tak boleh berhenti hanya di produksi.

“Sekarang target saya bukan sekadar jualan. Saya ingin berbagi pengalaman ke UMKM lain, juga ke sekolah atau kampus. Biar makin banyak anak muda yang berani memulai usaha,” ujarnya.

Visi besarnya sederhana, ia ingin usahanya bukan hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga membawa berkah bagi banyak orang.

Dari dendeng daun singkong, Daniel menunjukkan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil langkah bisa mengubah wajah bisnis lokal.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Ilham Juanda mengapresiasi keberhasilan Daniel yang masih eksis menjaga bisnisnya.

Jagoan Tani merupakan program inkubasi yang rutin digelar tiap tahun. Tahun ini namanya Jagoan Banyuwangi yang meliputi Jagoan ytani, Jagoan Bisnis, dan Jagoan Digital.

”Untuk program Jagoan Tani, kami mengajak generasi muda agar mau menggeluti bisnis pertanian dengan segala subsektornya. Kami menghadirkan mentor-mentor handal untuk memberikan wawasan bisnis,’’ kata Ilham.

Dikatakan Ilham, di usianya yang masih sangat belia, langkah Daniel sudah melampaui banyak pelaku usaha dewasa. Semangatnya menjadi bukti, bahwa inovasi tak mengenal batas usia.

Dengan branding kuat, pemasaran digital, dan jejaring yang luas, masa depan usahanya masih terbentang lebar.

”Siapa sangka, dari selembar daun singkong, lahir cerita sukses anak muda Banyuwangi yang berani bermimpi besar,’’ kata Ilham. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
jagoan bisnis Jagoan Digital daun singkong jagoan banyuwangi dendeng jagoan tani