RADARBANYUWANGI.ID - Memasuki musim tanam padi, para petani di Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono mulai membajak sawahnya, Jumat (22/8).
Tidak semua petani memiliki traktor atau alat bajak, untuk menggarap sawahnya harus menyewa.
Banyaknya petani yang harus menyewa traktor, tentu membawa berkah bagi yang memiliki mesin bajak sawah itu.
“Sejak dua hari lalu mulai banyak yang meminta bantuan untuk membajak sawah,” ujar Sumardi, warga Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono.
Setiap masuk musim tanam, kata dia, jasa yang ditawarkan selalu ramai. Bahkan, sampai kewalahan karena dilakukan sendiri.
“Kalau musim tanam seperti ini ingin menggunakan jasa, biasanya janjian dulu, karena banyak yang sudah antre,” katanya.
Sumardi mengaku pekerjaan ini dilakukan hanya setengah hari dengan luas sawah seperempat hektare.
Sebab, ia punya tangguhan mencari rumput untuk ternak piaraannya.
“Untuk tiap seperempat hektar bayarnya Rp 400 ribu,” ungkapnya
Di daerahnya, masih kata Sumardi, ada 15 hektare lahan sawah.
Setiap akan masuk musim tanam, mulai pagi hingga siang, sibuk mengerjakan sawah milik petani.
“Kalau siang belum memenuhi target seperempat hektare, maka dilanjutkan sore hari,” terangnya.
Petani yang memanfaatkan jasa bajak milik Sumardi, biasanya membayar saat pekerjaan sudah selesai.
Sebab, petani itu tidak selalu memegang uang untuk membayar jasanya.
“Kalau masih belum ada rezeki, bisa dibayar nanti setelah padinya panen,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Memasuki akhir Agustus, ketersediaan air di kampungnya masih melimpah. Karena itu, banyak petani mulai berebut minta sawahnya segera dibajak.
“Biasanya petani rebutan, karena khawatir tidak kebagian air atau sawahnya segera kering, hujan juga sudah mulai jarang,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana