RADARBANYUWANGI.ID - Para petani tembakau di Muncar sedang semringah. Saat ini, cuaca cenderung panas sehingga memudahkan penjemuran hasil panen mereka. Maklum, pengeringan tembakau sangat tergantung dengan cuaca.
Jika cuaca mendung atau hujan, banyak tembakau yang rusak dan berisiko tidak laku dijual.
Untuk menghasilkan tembakau berkualitas, setelah dipetik, daun tembakau disortir, dirajang, dan dijemur di bawah sinar matahari langsung.
“Sebelum dirajang, tembakau dirowek (diangin-anginkan) selama empat sampai tujuh hari untuk menghilangkan getah,” kata Ponirah, 70, petani asal Dusun Sumberjoyo, Desa Kumendung, Kecamatan Muncar.
Setelah proses penghilangan getah selesai, daun tembakau dirajang. Waktu terbaik untuk merajang adalah pada malam hari. Selanjutnya, rajangan tembakau dikumpulkan di wadah dan dicampur dengan gula.
“Biasanya merajang tembakau dimulai setelah magrib hingga tengah malam,” terangnya.
Di pagi hari, tembakau yang sudah dicampur gula ditaruh di nampan dan dijemur di bawah terik matahari langsung.
Selama proses penjemuran, cuaca harus cerah supaya tembakau cepat kering. “Kalau panas full satu hari, bisa kering,” ujarnya.
Namun, bila turun hujan, pengeringan terganggu. Temabakau berisiko terkena jamur dan tidak laku dijual.
“Bulan Agustus sampai Oktober momen yang pas untuk memanen tembakau, karena cuaca banyak panasnya,” ungkap Ponirah.
Petani lain, Saeroji, 75, mengatakan bahwa di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, kini sudah jarang yang menanam tembakau.
Menurut dia, hal ini karena perawatannya rumit dan tembakau tidak bisa langsung dijual setelah dipanen.
“Karena jarang yang menanam, tembakau yang sudah diproses mudah dijual, pedagang malah datang ke rumah,” ujarnya.
Jenis tembakau yang ditanam di sana adalah Semarangjahe, yang disukai penikmat tembakau karena rasanya tidak terlalu ampek.
“Rasanya ampek sedang,” jelasnya. Untuk harga jual, tembakau ini dibanderol mulai Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram.
Editor : Agung Sedana