Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bupati Ipuk Kaget! Ikan Tombro di Glenmore Tumbuh Jumbo Hanya dalam 4 Bulan

Agung Sedana • Kamis, 7 Agustus 2025 | 22:15 WIB
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menaburkan bibit ikan tombro.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menaburkan bibit ikan tombro.

RADARBANYUWANGI.ID - Kelompok budidaya ikan (Pokdakan) di Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, berhasil memaksimalkan potensi sungai menjadi sumber ekonomi warga.

Salah satunya adalah Pokdakan Mina Harta Mulia, memanfaatkan aliran sungai di RW 1 RT 06 Dusun Sepanjang Kulon sebagai lokasi utama budidaya keramba ikan jenis tombro, nila, dan koi.

Di lingkungan ini, ada 3 kelompok yang aktif melakukan budidaya ikan dengan metode keramba. Semacam kerangka berbentuk kotak yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya.

Keramba memungkinkan pembudidaya untuk memelihara ikan di lingkungan perairan alami tanpa memerlukan lahan khusus. 

Ketua Pokdakan Mina Harta Mulia, Sugiarto, mengatakan bahwa kelompok ini beranggotakan sepuluh orang yang aktif mengelola karamba berukuran 60x200 cm di sungai lokal dengan lebar 2 meter.

Dalam satu karamba, dapat diisi hingga 300 ekor ikan untuk pembibitan, dan kemudian dipindahkan ke karamba lain dengan kepadatan maksimal 50–100 ekor per unit setelah bobot mencapai 200 gram.

"Karena dari bibit itu pasti ada yang mati. Tidak semuanya bisa dijamin bakal hidup hingga panen," ujarnya, Kamis (7/8/2025).

Menariknya, ikan-ikan yang dibudidayakan di sini disebut tumbuh lebih cepat dibanding tempat lain. Dalam waktu empat bulan, ikan tombro dapat mencapai bobot lebih dari 1 kilogram, sementara di tempat lain umumnya hanya mencapai 0,5 kilogram.

Menurut Sugiarto, anomali ini disebabkan oleh lokasi karamba yang dekat dengan pasar. Biasanya, anggota Pokdakan memanfaatkan limbah organik seperti sisa tempe, tahu, ayam, ikan, hingga gilingan pentol sebagai pakan alternatif. 

Selain itu, ikan juga memakan sampah organik lain yang terbawa aliran sungai. Penggunaan pakan buatan berupa pelet pun sangat efisien, cukup 1 kilogram pelet untuk kebutuhan satu bulan.

“Limbah pasar yang melimpah jadi berkah buat kami. Ikan cepat besar dan hemat pakan,” ujarnya.

Kegiatan budidaya ini mendapat perhatian langsung dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, yang datang meninjau lokasi dalam rangkaian program Bunga Desa. Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk turut menaburkan ratusan bibit ikan tombro ke dalam karamba.

Baca Juga: Titik Perbaikan Jalur Gumitir Potensi Bertambah, Bekas Longsoran Mulai Menggerus Aspal

“Patut diapresiasi, bagaimana kekompakan kelompok disini mengelola budidaya ika. Selain produktif, mereka juga menjaga lingkungan sungai. Semangat seperti ini perlu terus dijaga dan dikembangkan,” ujar Bupati Ipuk.

Menurutnya, karamba yang dikelola warga ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian lingkungan. 

Di mana warga setempat aktif membersihkan sampah setiap sore, serta melakukan pengerukan sedimen secara berkala, terutama setelah banjir.

Dalam satu tahun, kelompok ini bisa melakukan panen hingga tiga kali. Untuk ikan tombro, sekali panen bisa menghasilkan lebih dari 1 kwintal dengan harga jual mencapai Rp50.000 per kilogram. 

Kepada Ipuk, para pemilik keramba menyatakan bahwa budidaya mereka sudah menembus pasar Lumajang, Bondowoso, Situbondo, hingga Surabaya.

Adapun untuk ikan nila, harga jualnya berkisar Rp35.000 per kilogram, sedangkan ikan koi menjadi komoditas bernilai tinggi. Harga ikan koi berbobot 1 kilogram dimulai dari Rp150.000 per ekor, bahkan bisa mencapai jutaan rupiah tergantung corak dan jenisnya.

"Dengan memanfaatkan lingkungan dengan baik, alhamdulilah warga juga dapat meraih manfaatnya untuk tambahan pendapatan," ujarnya.

Kelompok ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi bisa tumbuh di tempat yang tidak disangka. Limbah pasar yang biasanya dianggap masalah, justru dimanfaatkan sebagai keunggulan kompetitif oleh warga Sepanjang.

Dengan dukungan pemerintah daerah, dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, budidaya ikan di tengah desa ini menjadi model pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis lokal yang patut dicontoh.

Editor : Agung Sedana
#budidaya ikan #glenmore #banyuwangi