Dilaporkan APBN per Mei 2025 mengalami defisit 0,09 persen atau Rp 21 triliun.
"Posisi 31 Mei 2025 mengalami defisit Rp21 triliun. Kalau bulan lalu (April 2025) surplus Rp4,3 triliun, bulan ini defisit," ungkapnya.
Defisit ini terjadi disebabkan sektor penerimaan yang baru mencapai Rp995,3 triliun. Uang yang masuk ke kas negara baru menyentuh 33,1 persen dari target di APBN 2025.
Selanjutnya, Pemerintah Indonesia membelanjakan uang lebih besar senilai Rp1.016,3 triliun. Jumlah tersebut setara 28,1 persen dari pagu anggaran yang tersedia.
Sri Mulyani kemudian merinci belanja negara dialokasikan untuk pemerintah pusat senilai Rp694,2 triliun atau 25,7 persen. Sedangkan transfer ke daerah (TKD) menyentuh Rp322 triliun alias 35 persen terhadap APBN 2025.
sedangkan keseimbangan primer tercatat surplus Rp192,1 triliun terhadap APBN tahun ini. (*)