RadarBanyuwangi.id – Meski dibangun pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, sumber air, tandon, dan pipa-pipa PUDAM Banyuwangi masih berfungsi dengan baik.
Selain karena faktor alam dan baiknya kualitas bahan material, infrastruktur tersebut juga dirawat dengan baik. Sehingga, warga Kota Banyuwangi masih bisa menikmati air bersih yang disediakan PUDAM hingga sekarang.
Meskipun sudah berusia hampir satu abad, infrastruktur saluran air minum peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda masih berfungsi dengan baik.
Infrastruktur yang kini dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi tersebut masih difungsikan sebagai penyalur air bersih kepada warga Kota Banyuwangi.
Direktur Utama PUDAM Banyuwangi Abd. Rahman menuturkan, masih terdapat instalasi saluran air minum peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang bisa difungsikan. Infrastruktur tersebut terdiri atas sumber air, tandon, dan pipa untuk menyalurkan air.
Menurut Dur, sapaan karib Abd. Rahman, intalasi saluran air yang dulunya dikelola oleh Water Leiding Bedrijf tersebut berhulu di mata air Sumber Gedor dan bermuara di Pantai Marina Boom.
”Jalurnya ke Pantai Boom dan Inggrisan. Jadi, dari Penataban lurus ke timur terus. Karena dulu memang untuk menyalurkan air ke objek vital pemerintahan Hindia Belanda seperti penjara, kantor polisi, Asrama Inggrisan, dan Pelabuhan Boom Banyuwangi,” jelasnya.
Air yang berasal dari Sumber Gedor, kata Dur, terlebih dahulu dialirkan ke tandon Boyolangu untuk dilepastekankan. Setelah itu, air juga harus ”mampir” lagi ke tandon Penataban untuk berikutnya didistribusikan ke wilayah Kota Banyuwangi.
Di tandon Penataban, hawa Kolonial Hindia Belanda begitu nampak pada arsitekturnya. Fasad bangunan ini begitu simetris. Terdapat jendela di sebelah kanan, kiri, dan atas pintu masuk.
Bentuk atapnya juga datar dan terbuat dari beton. Persis gaya arsitektur kolonial modern. Di tembok sebelah kanan pintu, terdapat tulisan angka 1927 yang menunjukkan tahun didirikannya bangunan ini.
Saat masuk ke ruangan, suara gemberujuk air terdengar jelas. Rupanya, suara tersebut berasal dari aliran air di dalam pipa-pipa besar yang terdapat di ruangan kontrol. Pipa-pipa inilah yang merupakan peninggalan Belanda.
Menurut petugas jaga tandon Penataban, Setyo Amin, reservoir ini dapat menampung 500 meter kubik atau setara 500.000 liter air.
”Kalau yang peninggalan Belanda ini dapat menampung sejumlah itu. Pipa-pipanya juga belum pernah mengalami kebocoran,” ujar dia.
Nuansa kolonial juga terasa di tandon Boyolangu. Bedanya, bentuk bangunan tandon ini lebih mirip dengan gaya arsitektur kolonial era transisi.
Hal tersebut dapat dilihat dari adanya menara yang menjulang di bagian kiri atap gedung dengan atap berbentuk pelana atau perisai.
Di bagian atas pintu yang berbentuk melengkung, terdapat tulisan angka 1927 yang menunjukkan tahun dibangunnya tandon ini.
Menurut petugas jaga air tandon Boyolangu, Sovi Hendrianto, reservoir ini dapat menampung air sebanyak 150 meter kubik alias 150.000 liter air.
Sama seperti di tandon Penataban, pipa-pipa peninggalan Hindia Belanda juga masih berfungsi dengan baik dan belum pernah mengalami kebocoran. Fungsi utamanya adalah untuk melepastekankan air ke tandon Penataban.
”Selain sebagai pelepas tekan menuju tandon Penataban, air dari sini juga dialirkan ke wilayah sekitar,” terangnya.
Sayangnya, di dua tandon tersebut tidak banyak petunjuk perihal siapa yang memproduksi pipa-pipa di dalamnya. Hanya ada tulisan ”Bopp & Reuther Mannheim” di penutup saluran yang ada di depan gedung.
Setelah mencari informasi menggunakan mesin telusur, bukan tidak mungkin kalau perusahaan ini juga yang memproduksi pipa-pipa instalasi aliran air minum di Banyuwangi.
Sebab, tercatat di website resminya bahwa pada kurun 1900-an, perusahaan asal Jerman ini diklaim memasok 60 persen kebutuhan pipa saluran air dunia.
Demikian halnya dengan mata air Sumber Gedong. Menurut Dur, mata air ini belum pernah kering sejak dioperasikan pertama kali pada 1927 oleh Water Leiding Bedrijf.
Bahkan, mata air yang terletak di Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro ini sudah bisa mengalirkan air dengan kapasitas 10 liter per detik sejak pertama kali dioperasikan.
”Air dari sini yang menjadi andalan untuk disalurkan ke tandon-tandon, lalu didistribusikan kepada masyarakat melalui pipa-pipa yang sudah ditanam di tanah,” ungkap Dur.
Beberapa meter di bawah permukaan tanah, jalanan, dan gedung-gedung, pipa-pipa peninggalan Belanda masih kokoh tertanam. Hanya saja, kini tidak sampai ke dalam wilayah Pantai Boom seperti sedia kala.
Direktur Teknik PUDAM Banyuwangi Waris Paksono menyebut, dengan kondisi medan Pantai Boom yang berpasir, dikhawatirkan sulit mendeteksi adanya kebocoran karena air langsung terserap ke pasir.
”Terlebih di sana kan kandungan garamnya tinggi. Jadi, juga rawan terjadi korosi yang menyebabkan kebocoran. Makanya sekarang diganti dengan pipa HDPe (high density polyethylene). Kalau pipa Belandanya mentok sampai di jembatan mau masuk Pantai Boom itu,” pungkasnya. (rizqi hasan/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin