Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Masuk Panen Raya, Harga Beras di Banyuwangi Mulai Turun: Beras Premium Rp 14.400 per Kg

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 4 Mei 2024 | 16:14 WIB

BAHAN MAKANAN POKOK: Petani memanen padi di sawah yang berlokasi di Jalan Brawijaya, Banyuwangi.
BAHAN MAKANAN POKOK: Petani memanen padi di sawah yang berlokasi di Jalan Brawijaya, Banyuwangi.
Radarbanyuwangi.id – Panen padi yang mulai terjadi pada akhir April hingga awal Mei ini mulai mendorong penurunan harga beras di Banyuwangi. Di beberapa pasar tradisional, harga beras kualitas premium turun signifikan dibandingkan awal tahun ini.

Penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), penurunan harga beras premium terjadi di beberapa pasar tradisional di Bumi Blambangan. Termasuk di Pasar Banyuwangi, Pasar Blambangan, Pasar Rogojampi, dan Pasar Genteng.

Di Pasar Banyuwangi harga beras premium berkisar antara Rp 14 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram (kg) kemarin (3/5).

Sedangkan beras kualitas medium dijual seharga Rp 10.900 sampai Rp 12 ribu per kg. Padahal, pada awal tahun ini harga beras kualitas premium sempat menyentuh Rp 18 ribu per kg.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP) Nanin Oktaviantie mengatakan, musim panen padi tersebut sesuai prediksi Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi.

”Mungkin daerah lain juga mulai musim panen padi, jadi memengaruhi perubahan harga beras,” ujarnya (3/5).

Sesuai dengan hukum pasar, saat stok beras semakin banyak secara otomatis memengaruhi harga komoditas tersebut. Sehingga saat ini harga beras pun mulai turun. Kondisi ini menurut Nanin diprediksi bisa bertahan antara satu hingga dua bulan.

Bahkan, Nanin menyebut ada potensi stok beras bisa terus bertambah dengan adanya panen lagi. Sebab, pada Februari lalu ada petani yang memulai masa tanam dan kemungkinan dalam waktu dekat akan panen.

”Panen padi ini sangat berhubungan dengan harga beras. Saat panen, stoknya banyak. Sedangkan kebutuhan masyarakat relatif tetap. Akhirnya harga pasti turun,” jelasnya.

Nanin menambahkan, sampai saat ini beras masih menjadi komoditas utama. Meski program diversifikasi pangan seperti jagung dan singkong terus digalakkan, nyatanya masyarakat masih sulit untuk mengubah makanan pokok mereka.

Berbeda dengan telur. Saat komoditas tersebut naik, masyarakat masih bisa beralih ke komoditas lain.

”Masyarakat yang biasa makan dengan beras masih susah jika harus mengganti dengan jagung atau singkong. Ini yang membuat permintaan terhadap beras terus tinggi,” jelas Nanin.

Selain penurunan harga beras, saat ini harga gula pasir masih stabil di angka 17.500 per kg. Terkait hal tersebut, Nanin mengatakan pemkab tidak bisa melakukan intervensi harga.

Meskipun di Banyuwangi ada Pabrik Gula Glenmore yang memproduksi gula pasir, namun harga yang ditetapkan oleh IGG tetap mengacu pada harga nasional.

”Mereka punya aturan sendiri, jadi kita tidak bisa meminta mereka untuk menggelar operasi pasar seenaknya. Rencananya pertengahan bulan kami akan siapkan operasi pasar lagi agar stabilitas tetap terjaga. Termasuk beras dan gula dari Bulog,” tandas Nanin. (fre/sgt/c1)

Editor : Niklaas Andries
#blambangan #harga beras #Pasar Genteng #bulog #Bumi Blambangan #Komoditas #pasar rogojampi #gula pasir #panen padi #singkong #operasi pasar #kualitas medium #stok beras #pasar banyuwangi #Diskop-UMP #dispertan #Makanan Pokok #telur #pasar #pemkab #jagung #banyuwangi #Mei #april