Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tanaman Cabai Diserang Hama Keong, Petani di Lereng Gunung Raung Banyuwangi Merugi

Agung Sedana • Senin, 28 April 2025 | 14:40 WIB
HAMA: Sejumlah keong menyerang tanaman cabai di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Minggu (27/4).
HAMA: Sejumlah keong menyerang tanaman cabai di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Minggu (27/4).

RADARBANYUWANGI.ID – Awal masa tanam cabai di kawasan lereng Gunung Raung terganggu hama keong.

Pada masa peralihan dari musim hujan ke kemarau seperti saat ini, populasi keong meningkat pesat.

Para petani harus mengeluarkan biaya ekstra agar pohon cabai tumbuh terbebas dari serangan binatang yang juga dikenal dengan sebutan siput tersebut.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sejumlah petani cabai memilih akhir April hingga awal Mei untuk mulai menanam cabai.

Di sisi lain, Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Banyuwangi memasuki kemarau mulai Mei hingga puncaknya Agustus mendatang.

”Biasanya awal tanam bulan Juni, karena kemarau diprediksi lebih dini, maka awal tanam juga maju,” ungkap Satrio, warga Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Minggu (27/4).

Satrio mengklaim, untuk awal tanam cabai paling bagus dimulai saat kemarau. Ini karena risiko cabai terkena virus kuning atau bulai gemini sangat minim. Namun demikian, pada fase peralihan musim juga ada tantangan berupa serangan keong.

”Keong berkembang subur pada fase ini. Solusinya harus bongkar mulsa, modal agak lumayan. Selain itu, juga perlu obat pembasmi,” kata dia.

Petani yang lain, yakni Ponidi, asal Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng mengatakan, hama keong membeludak di lahan seluas 1 hektare miliknya.

Padahal, satu pekan lalu saat membersihkan lahan, nyaris tidak ada tanda-tanda populasi keong.

Ponidi menyatakan, awal tanam dia lakukan pada 18 April lalu. Hujan selama tiga hari berturut-turut setelahnya membuat populasi keong meningkat.

Karena itu, selama dua hari dia sibuk mengurusi sekitar 10 ribu pohon cabai yang baru saja dia tanam tersebut.

”Kalau pohon sudah usia 3 bulan, keong tidak lagi menjadi ancaman. Tapi awal tanam, banyak pupus daun yang putus karena keong. Kalau dibiarkan tanaman cabai bisa mati,” terangnya.

Hasil pengecekan yang dilakukan Ponidi, sedikitnya ada 120 pohon cabai yang baru tanam layu akibat pupus daun yang putus.

Karena itu, dia langsung memesan bibit baru untuk tanam sulam.

”Patah di bagian batang, harus dicabut. Setelah itu disulam dengan bibit baru,” ujarnya.

Menurut Ponidi, meningkatnya populasi keong secara tiba-tiba ini dipengaruhi oleh kelembapan tanah yang tinggi.

Cuaca terik berganti hujan membuat suhu di bawah mulsa menjadi hangat. Dalam kondisi tersebut telur keong akan menetas dalam waktu yang bersamaan. (cw4/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#cabai #Petani #keong #gunung raung #banyuwangi