RADARBANYUWANGI.ID – Konflik antara Tiongkok dan Amerika berdampak fluktuatif terhadap harga kedelai impor di nusantara.
Produsen tempe tahu di Banyuwangi mulai ketar-ketir apabila terjadi lonjakan harga secara tiba-tiba.
Kondisi pasar terkini, harga kedelai sedikit mengalami kenaikan sehingga membuat produsen merampingkan porsi tempe tahu.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, ada sedikit kenaikan harga kedelai di pasaran. Baik di pasar Banyuwangi wilayah utara maupun selatan.
Rata-rata, per kilogram kedelai impor dipatok dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 12.000.
Meskipun tidak ada lonjakan signifikan, bagi produsen tempe tahu kondisi ini masih berdampak.
Misnari, 53, produsen sekaligus penjual tempe di kawasan Pasar Sempu harus menyesuaikan ukuran jualannya.
Dia mengatakan, normalnya tempe balok buatannya memiliki ukuran panjang 25 sentimeter, tinggi 4 sentimeter, dan lebar 6 sentimeter.
Setelah penyesuaian dilakukan, lebar tempe berkurang 1 sentimeter.
”Harga masih sama Rp 6.000 satu balok, hanya saja sedikit berbeda ukurannya. Karena bahan bakunya sedikit naik juga,” ujar Pak Mis, sapaan kondang penjual tempe asal Kopen Genteng tersebut pada Rabu (23/4).
Efisiensi serupa juga dilakukan Lilik, 47, produsen sekaligus penjual tahu asal Desa Jambewangi, Sempu.
Secara kuantitas, produksi tahu Lilik masih sama. Hanya saja porsinya sedikit dikurangi.
”Tahu satu kantong plastik harga Rp 5.000, isi 10. Sebelumnya isi 11, ukuran masih sama,” ujarnya.
Lilik mengaku, setiap harinya tahu buatannya menggunakan 100 persen kedelai impor.
Jenis ini menurutnya lebih bersih, enak, dan minim limbah apabila dibandingkan kedelai lokal.
Dia merasa cemas apabila harga kedelai impor saat ini berangsur-angsur naik.
Ratnawati, pemilik toko perancangan di kawasan pasar Sempu, mengakui ada sedikit kenaikan harga kedelai.
Terakhir kali, sekitar 8 hari lalu dia mendapatkan harga sekarung kedelai dengan isi 50 kilogram seharga Rp 500 ribu.
”Biasanya Rp 500 ribu kurang untuk satu karung kedelai impor. Di sini rata-rata ecer harga Rp 11.000 per kilogram,” ungkap Ratna. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin