RADARBANYUWANGI.ID - Puluhan vendor dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mulai merasakan dampak mode bertahan perhotelan di Bumi Blambangan Banyuwangi.
Mitra hotel seperti penyedia dekorasi, perlengkapan acara, kebutuhan katering, penyewaan furnitur, pedagang buah, supplier sayuran, peternak telur, kelompok tani dan mitra lainnya, mulai kehilangan permintaan pesanan.
Beberapa general manager hotel di Banyuwangi mengungkapkan kekhawatirannya dengan kondisi saat ini.
Penerapan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 dinilai memiliki efek domino dari berbagai sektor perekonomian.
General Manager Kokoon Hotel Weni Kristanti menyatakan, penurunan permintaan kebutuhan pokok kepada mitra menurun drastis hingga 70 persen.
Kebutuhan beras, misalnya. Kokoon yang biasanya mampu menghabiskan lebih 1 ton lebih beras untuk satu bulan, kini berkurang drastis.
Untuk kebutuhan beras dan bahan baku lainnya, Kokoon biasa mengambil langsung dari petani dan supplier lokal.
”Sangat berkurang, anggap saja kebutuhan saat ini tinggal 25 sampai 30 persen saja,” ungkap Weni Jumat (18/4).
Efek domino ini terasa hingga ke supplier barang-barang kebutuhan hotel lainnya.
General Manager Aston Hotel Banyuwangi Catur Rahmadi mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir ini banyak pedagang buah dan sayur yang menghubungi hotel.
Para pedagang tersebut menanyakan alasan permintaan sudah jarang dilakukan.
”Contoh kebutuhan telur. Normalnya kami membutuhkan ratusan kilo per bulan, kini cuman puluhan saja. Peternak, pedagang, dan lainnya pada bertanya. Kok tidak ambil banyak kenapa?” kata Catur.
Bukan hanya vendor barang, agen perjalanan, operator tur, serta penyedia transportasi lokal juga merasakan dampak penurunan kunjungan.
Omzet perjalanan wisata dan shuttle service anjlok. Termasuk berbagai lukisan seniman lokal dan produk oleh-oleh UMKM nyaris tidak terjual.
”Lukisan di galeri kami biasanya dibeli oleh tamu jauh. Produk UMKM sebagai oleh-oleh juga laku kalau ada rombongan dinas dari luar kota. Sekarang ini utuh,” katanya.
Fanie, Owner Abbamart Banyuwangi yang menjadi mitra Aston membenarkan kondisi saat ini.
Fanie mengungkapkan, daya belanja Aston atas berbagai barang kebutuhan dapur di Abbamart merosot jauh.
Dari aktivitas pembukuan di kasir, Aston tercatat mengalami penurunan belanja hingga 50 persen.
”Kami biasa memenuhi kebutuhan berbagai barang di Aston. Dari histori pembukuan, permintaan kepada kami sekarang menurun sampai separuhnya,” kata Fannie. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin