RadarBanyuwangi.id - DPRD Banyuwangi angkat suara menyusul rencana kenaikan harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram (kg).
Wakil Ketua DPRD Siti Mafrochatin Ni’mah mengingatkan masyarakat untuk menghindari pembelian berlebih karena khawatir kehabisan stok (panic buying).
Ni’mah mengatakan, mulai hari ini (15/1) HET elpiji melon di Jatim naik dari Rp 16 ribu menjadi Rp 18 ribu.
Berkenaan dengan hal itu, dia mengimbau masyarakat, khususnya warga Banyuwangi agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying.
Ni’mah juga berharap masyarakat memahami alasan pemerintah menaikkan harga elpiji subsidi yang sudah 10 tahun tidak mengalami perubahan tersebut.
”Menurut Hiswana Migas, kenaikan harga elpiji 3 kg subsidi ini karena pertimbangan biaya operasional dan terjadinya inflasi sehingga masyarakat perlu memahami,” ujarnya.
Ni’mah mengatakan, Provinsi Jawa Timur merupakan daerah terakhir yang menerapkan HET terbaru. Sebelumnya sudah didahului oleh beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, dan Jakarta.
Di sisi lain, Ni’mah minta kepada Pertamina, pangkalan, maupun agen gas elpiji untuk memastikan ketersediaan elpiji 3 kg tetap terjaga. Sehingga, tidak terjadi kelangkaan.
”Sebagai wakil rakyat kami berharap kepada Pertamina, pangkalan, maupun agen memastikan ketersediaan gas elpiji subsidi tetap terjaga untuk mendukung kebutuhan rumah tangga maupun pelaku UMKM,” kata dia.
Ni’mah juga meminta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP) untuk melakukan pengawasan dan pemantauan distribusi gas elpiji 3 kg saat penerapan harga baru di pangkalan-pangkalan maupun agen di seantero Banyuwangi. (sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin