Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Berdiri 1943, Dairy Farm Margo Utomo Kalibaru masih Tetap Eksis: Siap Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Salis Ali Muhyidin • Selasa, 26 November 2024 | 19:09 WIB
PERAH: Petugas Dairy Farm Margo Utomo memerah susu sapi menggunakan mesin pada Jumat (15/11) malam.
PERAH: Petugas Dairy Farm Margo Utomo memerah susu sapi menggunakan mesin pada Jumat (15/11) malam.

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi sebagai kabupaten paling luas di Jawa Timur, berperan penting pada sektor pertanian.

Tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung padi yang memasok kebutuhan beras di sejumlah daerah, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga menjadi pemasok susu sapi segar ke beberapa wilayah.

Salah satu peternakan sapi perah yang sudah eksis sejak puluhan tahun lalu yakni Dairy Farm Margo Utomo di Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Populasi sapi perah di peternakan yang berdiri pada 1943 itu mencapai 70 ekor.

”Sebelum pandemi (Covid-19), pernah menyentuh 150 ekor,” kata manajer peternakan Dairy Farm Margo Utomo Sugeng Hariyanto.

Menurut Sugeng, dari populasi 70 ekor sapi perah itu, ada 25 ekor sapi yang produktif menghasilkan susu segar setiap harinya.

Susu segar yang dihasilkan mencapai 350 sampai 360 liter per hari. ”Sangat jarang menyentuh 400 liter,” ucapnya.

Susu segar itu, terang Sugeng, langsung dikirim ke konsumennya di Pulau Bali. Dalam sekali kirim, peternakan tersebut konsisten mengirim 1.000 liter susu segar.

”Kami langsung kirim ke konsumen, tidak melalui koperasi terlebih dahulu. Alhamdulillah, selalu terpenuhi,” terangnya.

Bukan tanpa alasan, menurut pria 51 tahun lalu itu, keuntungan dari menjual susu sapi yang diklaim masuk grade A tersebut, sangat minim apabila harus melalui koperasi terlebih dahulu.

”Di koperasi susu kami dihargai Rp 7.000 per liter. Tentu ini sangat murah dan jauh di bawah HPP (harga pokok penjualan),” ucapnya.

Apabila langsung memasarkan ke konsumen, imbuh Sugeng, susu sapi segar produksinya bisa dihargai Rp 14 ribu per liternya. Lebih tinggi Rp 2.000 dari HPP yang ditetapkan di peternakannya, yakni Rp 12 ribu.

”HPP kami Rp 12 ribu. Dari hitung-hitungan kami, satu ekor sapi biaya produksinya mencapai Rp 35 ribu sehari,” paparnya.

Sayangnya, menurut Sugeng saat ini penyerapan susu sapi di pasar sedang lesu. Salah satu penyebabnya yakni minimnya daya beli konsumen di sasaran pasar, yakni Bali serta gempuran susu impor dari Australia, Selandia Baru, dan negara-negara di ASEAN.

”Kalau dulu bisa seminggu dua kali kirim, sekarang cuma sekali. Pasarnya lesu sekarang,” jelasnya.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka, berpotensi menyerap produksi susu dalam negeri.

”Kami juga sudah mulai dimintai data terkait hasil produksi susu ini,” katanya.

Bila ada peningkatan permintaan dengan adanya program itu, Sugeng menyampaikan pihaknya akan ancang-ancang dengan menambah jumlah sapi.

”Sudah ada pembicaraan, rencananya kami menambah sapi menjadi 100 ekor. Tapi dilihat dulu seperti apa kelanjutannya,” terangnya. 

Dengan komitmen pemerintah untuk memastikan penyerapan produksi susu lokal, Sugeng mengaku akan memastikan kualitas susu yang dihasilkan terjamin dan harga bisa bersaing. ”Untuk kualitas, kami berani jamin,” tegas Sugeng.

Kondisi tak jauh berbeda dialami peternak susu kambing etawa yang ada di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.

”Masalah yang dulu masih sama. Sudah berbulan-bulan peternak kesulitan (turun intensitasnya) mengirim susu produksinya,” kata Khaibullah, 38, anggota Kelompok Ternak Panjiwangi, Dusun Panjen, Desa Jambewangi.

Biasanya, peternak bisa menyetor 15 liter susu segar ke koperasi. Namun, karena macetnya pengiriman susu ke wilayah Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlahnya berkurang.

Penurunannya sekitar 30 sampai 50 persen. ”Biasanya sehari bisa dapat 15 liter, sekarang hanya saya perah sekitar tujuh sampai 10 liter,” ungkapnya.

Khaibullah mengungkapkan, alasan mengurangi pemerahan 10 kambingnya lantaran takut stok susu tidak cepat diambil oleh pabrik.

”Kalau menumpuk, takut barangnya (susu) rusak. Apalagi, stok yang sudah menumpuk tidak hanya punya saya, tapi punya peternak yang lain juga,” pungkasnya. (sas/abi/c1)

 

 

 

Editor : Ali Sodiqin
#susu segar #sapi perah #kalibaru #banyuwangi #margo utomo