radarbanyuwangi.id - Sejak berdiri 14 tahun lalu, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) terus konsisten memberikan layanan keuangan inklusif kepada pelaku ekonomi akar rumput, terutama UMKM yang dijalankan oleh kaum perempuan.
Perusahaan pembiayaan berbasis teknologi ini terus mendorong usaha mikro melalui pembiayaan produktif.
Salah satu pelaku UMKM yang menerima pembiayaan produktif dari Amartha adalah Ririn, pemilik usaha pembuatan kostum tari dan karnaval asal Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.
Perempuan 45 tahun itu merasakan betul manfaat pembiayaan dari Amartha untuk mengembangkan usahanya.
“Dulu saya tidak pernah dan tidak berani meminjam modal sehingga modalnya sedikit sekali, seandainya berkembang cuma bisa satu kostum atau dua kostum,” kata Ririn saat menerima kunjungan rombongan media tour tim Amartha di kediamannya, Jumat (8/11).
Namun, Ibu Ririn kemudian memutuskan mengambil pinjaman untuk menambah modal karena usaha pembuatan kostum tari dan karnaval stagnan setelah bertemu tim Amartha.
“Saya sudah mendapat pembiayaan ke tiga dari Amartha. Saya percaya karena prosesnya mudah dan ada pendampingan,” kata Ibu Ririn.
Usaha kostum tari dan karnaval ini tak lepas dari latar belakang Ibu Ririn yang inspiratif. Dia mengabdikan diri untuk melestarikan kebudayaan Banyuwangi.
Dia mulanya adalah penari, meski sempat dilarang berkesenian oleh orangtuanya. Namun karena bakat yang dimiliki, Ibu Ririn melanjutkan kariernya di dunia tari.
Saat usianya yang tak lagi muda, Ibu Ririn tetap mengabdikan diri di dunia seni dengan menjadi pelatih dan desainer kostum tari dan karnaval. Dia juga menyewakan kostum dan menyediakan jasa rias alias MUA.
“Ini istilahnya hobi menjadi cuan,” kata dia sambil tersenyum.
Bisnis itu sejatinya sudah turun-temurun. Dibangun sejak 1998. Namun mulai 2002, Ibu Ririn mengelola langsung usaha tersebut. Dengan belajar secara otodidak, Ibu Ririn terus berkarya mengeluarkan desain-desain terbaiknya.
Suntikan modal dari Amartha itu mampu memompa usaha Ibu Ririn. Pembiayaan itu juga dipakai untuk membeli bahan untuk kostum tari dan karnaval. Kini, karya Ibu Ririn telah dipakai di berbagai ajang, antara lain ajang tahunan Gandrung Sewu dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).
“Sekarang ada tujuh orang karyawan, kalau dulu 12, terus karena Corona kakak saya yang membantu ke Sulawesi, jadinya sekarang cuma tujuh karyawan, delapan sama pelatih tari,” tutur dia.
Kostum bikinan Ibu Ririn dijual hingga ke luar Banyuwangi, mulai Jember, Malang, bahkan Sumatera hingga Kalimantan. Dia bahkan pernah beberapa kali mendapat permintaan dari Malaysia. “Dulu kenalnya di Facebook, kemudian menghubungi dan pesan kostum tari. Saya bahkan sampai diundang ke Malaysia,” tutur dia.
Omset Ibu Ririn pun meningkat. Di bulan-bulan tertentu, dia mampu meraup ratusan juta dari hasil menjual dan menyewakan kostum serta merias.
“Juni, Juli, dan Agustus, itu bulan-bulan ramai. Omsetnya kemarin bisa Rp300 juta,” tutur Ibu Ririn.
Head of Micro Business Amartha area Jawa Timur, Abdul Munim Zainul, berharap usaha Ibu Ririn terus tumbuh. Dengan demikian, manfaat usaha tersebut akan lebih besar.
“Kami berharap usahanya berkembang dan tumbuh, mereka memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, tentunya juga bisa mengajak orang lain juga untuk bergabung ke Amartha,” tutur Zainul.
Amartha, kata Zainul, ingin memberikan solusi kepada pelaku UMKM, terutama yang dijalankan oleh kaum perempuan. Sehingga dia terus memberikan literasi kepada para mitra melalui para pendamping di lapangan.
“Kami tidak ingin kehadiran kami malah menjadi masalah kami ingin menjadi solusi,” tutur Zainul.(*)
Editor : Salis Ali Muhyidin