Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cuaca Panas, Harga Kopi Kalibaru Justru Melambung Tinggi

Gareta Yoga Eka Wardani • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 14:25 WIB
MENJEMUR: Petani kopi sedang mengurai biji kopi saat dikeringkan di Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Banyuwangi, Jumat (11/10).
MENJEMUR: Petani kopi sedang mengurai biji kopi saat dikeringkan di Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Banyuwangi, Jumat (11/10).

RadarBanyuwangi.id – Para petani kopi yang ada di wilayah Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, kini lagi bahagia.

Harga kopi kini mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam sebulan terakhir. Intensitas panas yang cukup, membuat produksi kopi meningkat.

Salah satu petani kopi, Moh Lutfi, 23, asal Dusun Karang Bangkalan, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru merasakan keuntungan besar.

Kualitas kopi super saat ini laku dijual dengan harga Rp 74 ribu hingga Rp 75 ribu per kilogram, jauh di atas harga sebelumnya yang hanya Rp 60 ribu per kilogram.

“Cuaca panas turut menjadi faktor utama yang membuat bunga kopi mekar sempurna,” ujarnya.

Kondisi cuaca di luar negeri, terang dia, juga turut mempengaruhi harga kopi lokal.

Di beberapa negara penghasil kopi seperti Brasil, tanaman kopi mengalami kerusakan akibat panas ekstrem, sehingga produksi mereka menurun.

“Katanya di luar tanaman kopi rusak, seperti di Brasil yang kepanasan, tanamannya tidak berkembang,” katanya.

Menurut Lutfi, jenis kopi Arabika Kalibaru yang ditanam memiliki beberapa tingkatan kualitas.

Kualitas super dihargai Rp 74 ribu hingga Rp 75 ribu per kilogram, sementara biji kopi dengan kualitas biasa masih mencapai Rp 72 ribu per kilogram.

“Kopi basah saja harganya sudah Rp 68 ribu per kilogram, padahal tahun lalu yang super saja cuma Rp 60 ribu,” katanya.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ely Agustiamingsih, 43, menyampaikan cuaca panas menjadi faktor penting dalam kenaikan harga kopi.

Dengan cuaca yang mendukung, bunga kopi dapat mekar dengan sempurna sehingga produksi kopi meningkat. “Bunga kopi bisa mekar sempurna karena cuaca panas,” ungkapnya.

Selain faktor cuaca, Ely menyebut ketidakstabilan perdagangan kopi di luar negeri sebagai salah satu penyebab tingginya harga kopi lokal.

Kondisi pasar kopi internasional yang belum stabil, memberikan peluang bagi kopi lokal untuk terus mengalami kenaikan harga.

“Perdagangan kopi di luar negeri masih belum stabil, jadi kopi lokal masih bisa naik lagi harganya,” jelas Ely.

Meskipun kenaikan harga kopi membawa keuntungan besar bagi petani, Ely mengingatkan akan risiko pencurian yang meningkat.

Beberapa petani kopi bahkan harus berjaga semalaman di ladang untuk mencegah pencurian.

“Kenaikan harga kopi ini sangat menguntungkan, tapi juga rawan pencurian,” ujar Ely.

Para petani kopi di Kalibaru, tetap berharap harga kopi akan terus stabil atau bahkan meningkat di masa depan. Mereka juga siap menghadapi risiko yang ada demi menjaga hasil panen tetap aman.

“Kenaikan harga ini kami syukuri, tapi memang harus lebih waspada,” cetusnya.

Kenaikan harga kopi ini tidak hanya berdampak pada petani kopi, tetapi juga pada perekonomian lokal Kalibaru yang sebagian besar bergantung pada produksi kopi.

Dengan cuaca dan pasar yang mendukung, harapan para petani tetap tinggi untuk hasil panen yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

“Semoga harga kopi terus naik, karena ini sangat membantu kami,” pungkasnya. (rei/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#petani kopi #kalibaru #Harga Kopi #banyuwangi #pertanian #harga naik #kopi