Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kabupaten Banyuwangi Kembali Catat Rekor, Angka Kemiskinan Terus Turun Terendah Sepanjang Sejarah: Tersisa 6,54 Persen

Sigit Hariyadi • Rabu, 4 September 2024 | 04:59 WIB

 

BANTUAN SOSIAL: Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan bantuan Wenak kepada sejumlah penerima di kantor Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi, pada Senin (2/9).
BANTUAN SOSIAL: Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan bantuan Wenak kepada sejumlah penerima di kantor Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi, pada Senin (2/9).

Radarbanyuwangi.id - Berbagai upaya pemkab untuk menurunkan angka kemiskinan di Banyuwangi kembali berbuah manis. Pada perkembangan terbaru, persentase penduduk miskin di kabupaten the Sunrise of Java tersisa 6,54 persen.

Persentase penduduk miskin di Banyuwangi tahun 2024 jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 7,34 persen. Padahal, angka kemiskinan di Bumi Blambangan pada tahun 2023 tersebut sudah menjadi yang terendah sepanjang sejarah Banyuwangi sejak Indonesia merdeka.

Kepala BPS Banyuwangi Hermanto mengatakan, berdasar hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pada Maret 2024, angka kemiskinan Banyuwangi sebesar 6,54 persen atau turun 0,80 poin dari 2023 sebesar 7,34 persen.

Hermanto menuturkan, penurunan angka kemiskinan Banyuwangi dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berlangsung di tahun 2023. Di antaranya kondisi ekonomi makro yang mengalami tren positif. Seperti Inflasi year on year (y-o-y) yang bergerak positif, yakni sebesar 2,67 di 2023, lebih rendah dibanding inflasi 2022 sebesar 2,71.

Berbagai program yang digulirkan pemkab juga telah membawa dampak positif. Perekonomian Banyuwangi tumbuh dari 4,43 persen pada tahun 2022 menjadi 5,03 persen di tahun 2023.

Pendapatan per kapita Banyuwangi pun mengalami peningkatan dari Rp 53,822 juta pada 2022 menjadi Rp 58,086 juta di tahun 2023.

Hermanto melanjutkan, penurunan angka kemiskinan Banyuwangi juga dipengaruhi oleh kolaborasi dan kinerja pemkab bersama stakeholder terkait dalam penanganan kemiskinan melalui berbagai program.

Seperti program pengendalian harga bahan pokok, program Rantang Kasih, bantuan pangan kolaborasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), hingga program Aparatur Sipil Negara (ASN) Berbagi.

”Selain itu, juga ada program peningkatan pendapatan kelompok rentan dengan bantuan alat usaha seperti Warung Naik Kelas (Wenak), Kanggo Riko, Teman Usaha Rakyat (TUR), fasilitasi promosi produk UMKM, hingga subsidi biaya pengiriman produk UMKM dan upaya menumbuhkan wirausaha muda,” urai Hermanto.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestaiandani mengatakan, penurunan kemiskinan ini berkat kolaborasi dan kerja keras semua pihak dalam berbagai program yang telah digulirkan.

”Penurunan angka kemiskinan ini merupakan buah gotong royong banyak pihak. Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi pada semua pihak yang terlibat,” ujarnya.

Ipuk menambahkan, upaya penurunan kemiskinan akan terus dilakukan karena saat ini masih tersisa jumlah penduduk miskin yang harus mendapatkan perhatian.

”Dengan dukungan semua pihak, pemerintah akan terus melakukan penajaman sasaran intervensi program kemiskinan dan juga memantapkan program yang berdampak dan tepat sasaran,” pungkasnya. (sgt/c1)

Editor : Niklaas Andries
#angka kemiskinan #catat rekor #kabupaten banyuwangi #sepanjang sejarah #Bupati Ipuk Fiestiandani #stakeholder #terendah #Susenas