Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjamurnya Toko Mlijo di Jantung Kota Banyuwangi; Buka sampai Malam, Yang Paling Laris Sayuran

Bagus Rio Rohman • Sabtu, 20 Juli 2024 | 16:49 WIB
MUDAHKAN PEMBELI: Toko mlijo yang terletak di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Sobo, ini buka pukul 05.00 hingga pukul 22.00. Aneka kebutuhan dapur tersedia di kedai tersebut.
MUDAHKAN PEMBELI: Toko mlijo yang terletak di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Sobo, ini buka pukul 05.00 hingga pukul 22.00. Aneka kebutuhan dapur tersedia di kedai tersebut.

RadarBanyuwangi.id – Kedai sayur-sayuran mulai tumbuh subur di jantung kota Banyuwangi.

Toko mlijo yang buka sampai tengah malam ini tak hanya menyediakan sayuran, tapi juga kebutuhan aneka bumbu dapur.

Kendati tidak sampai buka 24 jam, kehadirannya sangat membantu warga.

Ibu-ibu rumah tangga sudah terbiasa belanja sayuran pada pagi hari.

Mereka mengandalkan pedagang sayuran keliling yang hampir tiap hari lewat di depan rumah.

Mulai sayuran, tempe, tahu, kerupuk, ikan laut, daging sapi, ayam, telur, tomat, wortel, terasi, beras, dan buah-buahan.

Lewat mlijo keliling, hampir setiap kebutuhan dapur bisa didapatkan. Mereka tidak perlu jauh-jauh belanja ke pasar.

Namun, kehadiran mlijo keliling kini mulai tersaingi dengan maraknya kedai sayuran yang buka mulai pagi sampai tengah malam.

”Kalau mau beli sayuran pada malam hari sekarang mudah. Tak perlu jauh-jauh ke pasar. Apalagi pada bulan Ramadan lalu, untuk memasak menu sahur tinggal beli di kedai sayuran. Kebetulan letaknya dekat dengan rumah,” ujar Atun, salah seorang warga Lingkungan Karangente, Jalan Brawijaya, Banyuwangi.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sangat mudah menemukan kedai sayuran yang buka sampai malam di kota Banyuwangi.

Kehadirannya tersebar di Jalan Adi Sucipto, Jalan Brawijaya, dan Jalan Borobudur. Toko-toko tersebut menjual sembako, kebutuhan dapur, hingga perabotan rumah.

Kehadiran toko mlijo merupakan respons terhadap meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga.

Toko-toko tersebut menawarkan beragam pilihan produk dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan supermarket atau toko modern lainnya.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin berhemat dalam berbelanja.

Selain harga yang bersaing, toko mlijo juga menawarkan kemudahan akses dan fleksibilitas bagi para pelanggan.

Toko-toko ini biasanya terletak di area permukiman sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat.

Jam buka yang panjang mulai pukul 05.00 hingga pukul 22.00 juga memungkinkan masyarakat untuk berbelanja di waktu yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

”Hampir semua dagangan ada. Mulai dari sayuran, sembako, kebutuhan rumah, hingga bahan pokok lainnya,” ujar Indah, pemilik toko mlijo di Jalan Borobudur.

Indah mengatakan, kedainya menjual aneka kebutuhan rumah tangga, khususnya bumbu dapur dan sayuran.

Selain menjadi lahan bisnis yang menjanjikan, kedai tersebut didirikan untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan keperluan dapur.

”Awalnya banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, sehingga menjadi inspirasi saya membuka toko mlijo untuk membantu masyarakat,” katanya.

Dagangan yang paling laku di toko mlijo miliknya adalah sayur-mayur dan segala bumbu untuk keperluan memasak.

”Yang laris sayuran dan bumbu dapur karena banyak warga yang ingin memasak secara praktis,” terang Indah.

Omzet yang didapat tergantung penjualan. ”Sehari bisa dapat Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu saja, itu pun jika ramai pembeli,” ungkap Indah.

Untuk memenuhi isi kedai, Indah kulakan ke pasar tradisional karena harga belinya murah.

”Kami menjual dengan harga murah, jadi harus membeli barang yang murah juga agar masyarakat tidak merasa dirugikan,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan pemilik kedai mlijo di Jalan Brawijaya, Sunaikah.

Perempuan berusia 70 tahun itu mengaku baru 15 hari membuka lapak dagangannya.

”Kami buka di pinggir jalan untuk menyasar para pengguna jalan supaya mudah membeli kebutuhan pokok,” kata warga Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah tersebut.

Sunaikah menjelaskan, dagangannya yang sering laku adalah berbagai jenis sayuran. Mulai bayam, kangkung, daun pakis, dan lainnya.

”Yang paling laku memang sayuran, tapi juga ada risikonya kalau tidak laku. Terlalu lama dipajang cepat layu,” ujarnya.

Sunaikah mengakui ada kendala ketika berjualan di pinggir jalan raya seperti Jalan Brawijaya yang merupakan jalur cepat.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan toko mlijo.

”Ya disabari saja, Mas, yang penting sayur yang dijual tetap segar. Yang tidak laku atau yang sudah layu harus dibuang,” akunya.

Sedangkan pemilik toko mlijo di Jalan Adi Sucipto, Sofyan menuturkan, tujuan membuka toko mlijo untuk memudahkan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok.

Dengan begitu, masyarakat tidak perlu jauh-jauh berbelanja ke pasar.

”Biasanya banyak masyarakat yang enggan pergi ke pasar karena jauh. Dari situlah saya membuka mlijo yang buka sampai malam hari,” kata lelaki 40 tahun tersebut.

Sofyan menyebut, sebagian dagangannya disuplai oleh orang. Dia hanya menjualkan saja.

”Ada sebagian yang disuplai, tapi ada yang kulakan sendiri,” ungkapnya.

Sofyan menambahkan, barang-barang yang kerap laku yaitu sayuran dan palawija. Untuk omzet sekitar Rp 700 ribu per hari sehingga menurutnya cukup untuk modal kulakan lagi. (rio/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Bumbu Dapur #kebutuhan dapur #harga murah #sayuran #Sayur #toko mlijo #pedagang sayuran #mlijoan