Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemerintah Dianggap Perlu ‘Cawe-Cawe’ Atur Tata Niaga Kratom: Demi Jaga Kualitas dan Lindungi Petani

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 26 Juni 2024 | 17:32 WIB

EKONOMIS TINGGI: Kratom menjadi sangat diburu bagi masyarakat luar negeri
EKONOMIS TINGGI: Kratom menjadi sangat diburu bagi masyarakat luar negeri

Radarbanyuwangi.id – Keikutsertaan Indonesia dalam pameran Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas lalu menjadi sebuah pengakuan internasional atas kratom made in Indonesia khususnya kratom asal Kalimantan Barat. Banyak negara yang kini berlomba menanam kratom. Namun secara kualitas kratom dari Indonesia, dinilai sebagai yang terbaik di dunia.

“Impor kratom Amerika Serikat itu tidak hanya dari kita, banyak juga dari Thailand, Vietnam, dan negara-negara Indocina. Bahkan beberapa negara Afrika juga mulai menanam. Tetapi kratom dari Kalimantan Barat yang paling baik kualitasnya, dari sisi kandungan mitragine-nya,” jelas Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri KalbarRudyzar Zaidar Mochtar seperti dilansir Pontianak Post.

Sayangnya kualitas kratom Indonesia belakangan kerap dipertanyakan oleh pembeli dari Amerika. Pasalnya sering ditemukan produk yang tidak higienis, seperti tercampur dengan dedaunan lain.

Hal tersebut, menurutnya disebabkan lantaran tidak ada standarisasi produk dan fasilitas usaha. Sehingga siapa pun bisa mengekspor, bahkan orang yang tak berpengalaman sekali pun.

Akibatnya terjadi persaingan harga yang gila-gilaan. “Belum lagi kualitas produk yang buruk dan merusak citra kratom Indonesia, terutama Kalbar. Paling dirugikan tentu saja petani kratom,” ungkap Rudyzar.

Saat ini di pasaran internasional, harga tepung kratom berada di kisaran 5 hingga 6 dolar AS per kilogramnya. Padahal beberapa tahun lalu, komoditas ini pernah menyentuh nilai 40 dolar.

Di tingkat petani harga daun basah tinggal Rp4.000. Adapun daun kering remahan sekitar Rp20.000-30.000, tergantung kualitas.

Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pembeli yang seenaknya. Menurutnya, banyak eksportir yang menderita kerugian lantaran kirimannya tidak dibayar pembeli.

“Sering barang sudah sampai, buyer tidak mau membayar. Alasan mereka produk yang dikirim setelah diuji kualitas oleh lab di sana, ternyata kratom kita banyak dicampur daun tumbuhan lain. Katanya tidak higienis, atau kandungan mitragine-nya rendah,” sebut dia.

Ia tak menyangkal bila ada segelintir oknum eksportir yang melakukan kecurangan demi meningkatkan volume pengirimannya. Hal itu merugikan semua pihak. Termasuk petani di daerah. “Tentu ini merusak citra para eksportir lainnya. Terutama petani di daerah,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Rudyzar mendorong agar seluruh produk kratom yang diekspor wajib diuji laboratorium dulu di dalam negeri. Ia juga meminta pemerintah mengintervensi dan memberlakukan aturan terkait produksi kratom ekspor.

Lanjut Rudyzar, hendaknya para pelaku ekspor juga distandarisasi dan diawasi pemerintah. Harus ada syarat minimum bagi eksportir yang bisa melakukan ekspor.

Pasalnya saat ini siapapun bisa mengekspor, sehingga berdampak persaingan harga yang tidak sehat dan buruknya citra produk kratom Kalbar.

“Harus ada syarat untuk mengekspor. Misalnya minimal harus ada gudang 2.000 ribu meter persegi. Eksportir harus punya fasilitas penggilingan dan pengeringan yang standar. Supaya tertib dan teratur,” sebutnya.

Dia mencontohkan komoditas kopi, rotan, dan sejumlah produk lainnya, yang harganya selalu stabil. "Di komoditas kopi misalnya ada kuota ekspor yang diberikan kepada pelaku usaha. Syaratnya mereka harus punya tempat produksi yang standar. Akibatnya jadi lebih terkontrol," paparnya.

Namun aturan tersebut hendaknya jangan sampai menimbulkan praktik monopoli atau oligopoli ekspor. “Yang penting tidak seperti sekarang, dimana semua bisa kirim semaunya,” imbuh Rudyzar.

Selain itu, kata dia, saat ini ekspor kratom sebagian dijalankan via Jakarta, Surabaya, dan pelabuhan kota-kota lain. Beberapa penampung di sana memborong kratom Kalbar. Akibatnya, pemerintah daerah Kalbar tidak mendapatkan pajak ekspor dari pengiriman tumbuhan yang menjadi obat herbal tersebut.

Sebagai informasi, kratom adalah tumbuhan endemik Kalbar yang telah lama menjadi obat herbal bagi warga lokal. Belakangan permintaan internasional akan komoditas ini meningkat, sehingga kratom pun menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Kalbar.

Di Kalbar ada sekira ribuan masyarakat yang hidupnya tergantung dari produk yang awalnya adalah tumbuhan liar ini. Selain memiliki fungsi bagi dunia pengobatan, kratom juga saat ini memiliki fungsi ekologis dalam sebagai paru-paru dunia di Kalimantan. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#kuota ekspor #vietnam #klaimantan barat #kratom #surabaya #pemerintah #pajak ekspor #indonesia #Kadin #jakarta #thailand #amerika serikat #kopi #obat herbal