Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Beras Organik Banyuwangi Kian Diminati Konsumen, Kini Dijual di 18 ribu Supermarket se-Indonesia

Salis Ali Muhyidin • Selasa, 18 Juni 2024 | 16:04 WIB

 

Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Kepala Dispertan Arief Setiawan meninjau proses penyemprotan padi di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, beberapa hari lalu.
Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Kepala Dispertan Arief Setiawan meninjau proses penyemprotan padi di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, beberapa hari lalu.

 

RadarBanyuwangi.id – Kualitas beras organik Banyuwangi diminati pasar nasional. Permintaan yang cukup tinggi membuat beras organik produksi Bumi Blambangan kini tersedia di 18 ribu supermarket yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. 

Sejak beberapa tahun terakhir Pemkab Banyuwangi terus mendorong petani menerapkan sistem pertanian terintegrasi dengan budi daya secara organik.

Lahan-lahan pertanian di desa-desa di Banyuwangi, seperti Sumberbaru, Segobang, Parijatah, dan desa-desa lainnya kini telah dimanfaatkan untuk budi daya beras organik. 

Beras organik yang diproduksi adalah Beras Merah varietas A3 Segobang, Beras Hitam Melik Parijatah, Beras Cokelat, dan Beras Putih Berlian. 

Varietas-varietas itu telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi ke Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan telah mendapatkan sertifikat organik dari lembaga terkait.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengunjungi lahan pertanian organik di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh saat program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di desa tersebut mengapresiasi para petani yang telah menerapkan sistem pertanian terintegrasi.

“Telah terbukti, yang organik kini sangat diminati. Secara ekonomi juga lebih menjanjikan. Karena itu kami terus mendorong para petani menerapkan sistem pertanian terintegrasi,” kata Ipuk. 

Salah satu pengusaha beras organik Banyuwangi, Ahmed Tessario mengatakan, awalnya menggandeng 16 petani untuk menggarap lahan seluas 1,6 hektare (ha). Seiring dengan perkembangan dan permintaan pasar terhadap beras organik yang tinggi, petani yang menjadi mitranya saat ini menjadi 1.500 orang.

Luas tanam juga terus bertambah. Dari yang awalnya 1,6 ha kini menjadi 500 ha. Dari lahan seluas 500 ha itu, Ahmed mengaku mampu memproduksi beras organik sebanyak 70 sampai 100 ton per-bulan.  Selain dipasarkan melalui distributor ke pasar-pasar modern, Ahmed juga menjual beras organiknya melalui marketplace dan reseller.

“Alhamdulillah permintaan selalu ada. Setiap 3 hari sekali kami kirim 8 sampai 10 ton kepada distributor. Itu belum termasuk permintaan dari reseller dan konsumen dari marketplace,” kata Ahmed.

Baca Juga: Hasil Rapat Pleno Komisioner KPU Banyuwangi Periode 2024-2029: Cek Selengkapnya Disini

Ahmed menambahkan, permintaan hampir di seluruh provinsi. “Seperti Jatim, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua,” kata Direktur Utama PT Sirtanio Organik Indonesia itu.

Ahmed menceritakan, dirinya mulai mengembangkan padi organik mengikuti jejak sang paman, Samanhudi, yang lebih dulu terjun ke pertanian organik.

“Awalnya saya diajak untuk membantu paman. Lama-lama saya tertarik dan akhirnya ikut terjun ke pertanian organik. Saya ingin membantu petani untuk mendapatkan harga gabah yang bagus,” tuturnya.

Upayanya bertahun-tahun mengonversi lahan pertanian non-organik menjadi organik membuahkan hasil. Pada tahun 2019, beras organik produksi PT Sirtanio Organik Indonesia mulai diekspor ke Italia dan Afrika Selatan.

Ekspor beras organik terpaksa dihentikan karena pandemi Covid-19. Negara tujuan ekspor mengalami krisis ekonomi. Regulasi juga semakin ketat.

“Sejak saat itu kami putuskan untuk fokus pada pasar domestik. Alhamdulillah saat pandemi penjualan domestik justru meningkat karena kesadaran masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh semakin tinggi,” ungkapnya.

Harga beras merah mencapai Rp 31 ribu per kilogram, beras putih Rp 27 ribu per kg, beras cokelat Rp 26.500 per kg, beras hitam pekat Rp 35 ribu per kg, dan beras hitam Melik Rp 45 ribu per kg. (*)

 

Editor : Salis Ali Muhyidin
#produksi #Bumi Blambangan #supermarket #pemkab banyuwangi #indonesia #konsumen #beras organik #banyuwangi