Kondisi ini dimanfaatkan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi untuk bisa melakukan budi daya secara mandiri.
Hal itu disampaikan Kepala BPPP Banyuwangi Moch. Muchlisin dalam Forum Konsultasi Publik yang dilaksanakan di gedung BPP Banyuwangi Selasa (11/6).
Muchlisin mengatakan, Banyuwangi merupakan penghasil baby lobster yang lumayan besar. Karena di dalam negeri jarang sekali ada budi daya lobster, nelayan memilih untuk mengekspor baby lobster.
”Yang berhasil melakukan budi daya di Vietnam. Makanya banyak yang menjual ke sana. Meski sekarang sudah bisa ekspor, tapi syaratnya banyak sekali,” kata Muchlisin.
Meskipun memiliki nilai ekonomis yang tinggi, tidak mudah membudidayakan lobster. Yang paling kentara adalah tingginya feed conversion ratio dari lobster.
Jika ikan biasa memiliki perbandingan 1,2 kilogram (kg) pakan untuk menjadi 1 kg daging ikan, lobster jauh lebih tinggi.
Untuk mendapat peningkatan bobot lobster 1 kg saja, rata-rata dibutuhkan 15 sampai 20 kg pakan. ”Karena itu, harus kita carikan pakan yang murah juga. Rencananya kita akan gunakan keramba dasar. Memberi makannya harus menyelam. Untuk yang usianya masih baby lobster kita rawat di akuarium dulu,” terang pria asal Lamongan itu.
Rencananya, lokasi budi daya lobster akan dilakukan di Pantai Grand Watudodol (GWD). Sistemnya akan menggunakan metode segementasi.
Setelah dua bulan, lobster bisa dipindah ke pemelihara selanjutnya. Begitu juga pada tahapan selanjutnya.
”Pembesaran butuh waktu lama. Agar uangnya berputar, kita sesuaikan segmennya. Nanti dua bulan pindah, jadi tidak terlalu lama,” tegas Muchlisin.
Selain mempersiapkan budi daya lobster, akan ada lima program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun ini.
Antara lain penambahan kawasan konservasi 30 persen dari jumlah yang ada, penangkapan ikan terukur, dan budi daya berkelanjutan untuk komoditas prioritas, seperti udang, kepiting, rajungan, rumput laut dan lobster. Kemudian, ada program
”Bulan Cinta Laut” untuk mengurangi sampah di laut serta pengendalian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.
”Tahun 2022 sebenarnya kita sudah coba 10 keramba lobster di GWD, tapi akibat musim hujan banyak sampah organik yang masuk ke insang lobster kemudian mati. Jadi, sekarang kita coba lagi. Maksimal dua bulan lagi berjalan,” kata Muchlisin. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries