Sejak Minggu (9/6), Revo bersama adiknya sudah membuka toko yang sempat tutup setelah relokasi. Dia harus melakukan beberapa renovasi agar lapak yang disiapkan Pemkab Banyuwangi bisa digunakan menjadi toko pakaian. ”Bawahnya saya semen, beberapa sisa dari toko lama juga dibawa ke sini seperti pintu kayu dan lainnya,” kata Revo.
Untuk merenovasi tempat barunya, pria yang sudah sepuluh tahun berdagang di Pasar Banyuwangi itu mengaku harus merogoh kocek sampai Rp 10 juta. Hal ini dilakukan agar toko bisa cepat berdiri dan aman. ”Saya ingin bisa segera jualan. Bayar banyak tukang supaya cepat selesai dibangun. Semoga nanti bisa laris,” harapnya
Sama seperti Revo, beberapa pedagang lainnya juga menunggu lapak mereka selesai dibangun sebelum membuka dagangan. Rata-rata mereka membuat bidak mereka menjadi tertutup agar tidak mudah terkena air hujan dan debu.
Fajar, 69, pedagang pakaian lainnya mengatakan, dirinya mengambil bahan baku yang masih bisa dipakai dari toko di pasar lama. Kemarin pihaknya mulai memasukkan barang-barang dagangannya ke bidak baru.
Fajar berharap, di tempat baru itu dia bisa menarik lebih banyak pelanggan. ”Di Pasar Banyuwangi, ukuran lapak 4 x 4 meter, sekarang 9 x 3 meter, digabung sama punya anak saya,” ucapnya.
Fajar menambahkan, sejak dihantam pandemi Covid-19 dan maraknya jual beli pakaian di media sosial, penjualannya di Pasar Banyuwangi menurun drastis. Pembeli masih ada, namun tidak sebanyak sebelumnya. ”Sebelumnya diundi, dapatnya di sini. Ya semoga ramai. Lokasi saya di depan parkiran. Seharusnya banyak dilirik orang,” harapnya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (UMP) Nanin Oktaviantie mengatakan, pedagang konveksi sempat meminta waktu satu minggu untuk membangun bidak mereka. Pedagang kain butuh tempat yang tertutup agar tidak terkena debu dan hujan. ”Mereka yang butuh material kami perbolehkan mengambil di pasar sisa bongkaran, tapi tetap harus izin ke koordinator pasar,” kata Nanin. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries