Dari data Pelabuhan Tanjung Wangi, 1.200 sapi perah berasal dari perusahaan HRM Livestock Australia. Sapi-sapi itu diangkut kapal berbendera Portugal MV Friesian Express.
Sapi-sapi tersebut diterima oleh dua peternakan modern, yakni PT Bumi Rojo Koyo di wilayah Kecamatan Licin dan PT Bumi Kironggo Joyo di wilayah Bondowoso. Dari 1.200 ekor, 700 ekor di antaranya dibawa ke Licin dan sisanya 500 ekor dibawa ke Bondowoso.
Kepala Seksi (Kasi) Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi Budi Sanjoyo mengatakan, proses bongkar muatan hewan ternak sapi tersebut dilakukan melalui pengawasan dan prosedur ketat.
Termasuk dengan menggunakan ramp (jembatan penghubung) melalui proses penyemprotan disinfektan serta pengawasan dari Balai Karantina.
Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi dan memastikan kualitas dan kesehatan hewan.
”Selain itu, di lokasi peternakan juga ada pemeriksaan lagi dari Balai Karantina, jadi sudah ada instalasi karantina di sana sebelum sapi mulai diberdayakan,” jelas Budi.
Impor sapi ini sendiri, menurut Budi, baru pertama kali dilakukan melalui Banyuwangi. Selama ini, proses kedatangan ternak hanya terjadi di level antarpulau. Terutama jelang bulan haji atau Idul Adha.
”Biasanya ada sapi-sapi dari Bima yang datang, baik melalui KLM maupun kapal penumpang milik ALP. Tapi kalau impor sebesar ini sepengetahuan saya baru sekali ini,” tandasnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries