Nilai transaksi khusus dari penjualan tiket kapal yang melayani rute Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk dan sebaliknya tak kurang dari Rp 31 miliar.
Sepanjang arus mudik yang berlangsung mulai 31 Maret hingga hari ”H” Lebaran pada 10 April, jumlah penumpang yang menyeberang ke Pulau Jawa dari Pelabuhan Gilimanuk sebanyak 8.795 orang.
Pada periode yang sama, kendaraan roda dua maupun roda empat atau lebih yang diseberangkan dari Gilimanuk menuju Ketapang mencapai 150.348 unit.
Sedangkan pada arus balik, tepatnya sejak H+1 hingga H+7 Idul Fitri, jumlah penumpang yang menyeberang ke Pulau Bali sebanyak 8.398 orang.
Selain penumpang pejalan kaki, jumlah kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat atau lebih yang menyeberang ke Bali dari Pelabuhan Ketapang, sebanyak 74.053 unit.
Jika dikalkulasi dengan tarif yang berlaku, maka total nilai penjualan tiket kapal dari Pelabuhan Gilimanuk selama arus mudik mencapai puluhan miliar rupiah.
Begitu pun dengan arus balik, meski tidak sebesar arus mudik, total nominal hasil penjualan tiket penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang mencapai Rp 10 miliar lebih.
General Manager (GM) ASDP Ketapang Syamsudin mengatakan, apabila dihitung secara rinci, nilai penjualan tiket kapal paling banyak terjadi sebelum Lebaran.
Terhitung sejak H-10 sampai hari H Lebaran penjualan tiket mencapai Rp 21 miliar. ”Penyeberangan dari Gilimanuk, Bali ke Ketapang cukup banyak,” ujarnya.
Sedangkan saat arus balik, lanjut Syamsudin, penjualan tiket hingga H+7 Lebaran hanya mencapai Rp 10,36 miliar atau hanya separo dibandingkan arus mudik.
”Makanya jika ditotal secara keseluruhan, nominalnya cukup banyak. Tapi itu terbagi menjadi dua yaitu arus mudik sendiri dan arus balik sendiri,” kata dia.
Syamsudin menyebut, ada pembagian hasil penjualan tiket berdasarkan penyesuaian harga tiket terpadu.
Sebanyak 60 persen hasil penjualan tiket akan diserahkan ke operator kapal, sedangkan 38 digunakan sebagai jasa pelabuhan.
”Khusus dua persen digunakan untuk asuransi Jasa Raharja. Tetapi tidak dipukul rata, ada perbedaan penerapan antara tiap-tiap golongan. Baik roda dua, roda empat, maupun truk,” jelasnya. (rio/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries