Harga itu sudah berlaku sejak awal April lalu. Telur merupakan salah satu kebutuhan penting bagi sebagian masyarakat.
Kenaikan dan penurunan harga akan sangat berdampak. “Dari tingkat peternak harga telur tetap Rp 25 ribu per kg, ini sejak awal April,” kata Ahmad Haris, 38, peternak ayam asal Dusun Sumberejo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
Menurut Haris, harga telur yang stabil ini sesuai dengan kebutuhan dan stok di pasaran. Selain itu, sistem pendistribusian telur juga mempengaruhi fluktuasi harga.
“Stok di pasaran relatif aman dan distribusi lancar, maka harga telur tetap tidak berubah,” ungkapnya.
Harga telur yang relatif stabil selaras dengan harga pakan ayam. Sejak awal April, terang dia, harga pakan ayam per 50 kg bertengger di angka Rp 395 ribu.
“Selama tidak ada kenaikan harga pakan ayam, maka harga telur juga akan mengikuti stabil,” ucapnya.
Tidak hanya pakan konsentrat ayam yang terbilang stabil, harga jagung sebagai pakan alternatif ayam, juga cukup terjangkau bagi para peternak ayam.
“Harga jagung saat ini Rp 6.000 per kg, itu sudah murah dibanding dulu yang mencapai Rp 12 ribu per kg,” ucapnya.
Salah satu pedagang telur di Pasar Genteng 2, Ardan Nur Rofi, 25, asal Dusun Jalen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng mengatakan harga telur ayam di pasar terjadi penurunan dan stabil setelah Lebaran.
“Dari peternak ayam harganya tetap, jadi di pasar sekitar Rp 27 ribu sampai Rp 28 ribu per kg,” katanya.
Menurut Ardian, harga telur tidak jauh berbeda dengan di tingkat peternak. Sejak beberapa minggu lalu, harga telur bertahan di angka Rp 28 ribu per kg.
“Bisa dibilang bertahan antara Rp 27 ribu sampai Rp 28 ribu per kg,” kata petugas Pasar Induk Genteng 1, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Arif Kurniawan.
Sedangkan kenaikan harga telur, jelas dia, terjadi pada saat menjelang Lebaran beberapa waktu lalu.
Saat itu, harga telur mencapai Rp 35 ribu per kg. “Tapi setelah Lebaran turun lagi dan kini stabil,” tandasnya. (rei/abi)
Editor : Niklaas Andries