Salah satu dampak yang signifikan adalah potensi mundurnya panen raya tamanan padi.
Fenomena El Nino menyebabkan pola cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan yang tidak terdistribusi secara merata.
Hal ini mengakibatkan keterlambatan dalam proses pertumbuhan tanaman padi, yang pada gilirannya memengaruhi jadwal panen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Ilham Juanda mengatakan, meroketnya harga beras akhir-akhir ini diperkirakan akibat dampak dari fenomena El-Nino.
Menurut dia, musim hujan biasanya sudah tiba pada akhir tahun lalu sehingga panen raya bisa dilakukan pada bulan Maret atau April.
Namun, imbuh Ilham, kali ini cuaca sangat tidak bisa diprediksi. Para petani baru bisa tanam padi pada Januari sehingga dapat dipastikan hasil panen raya akan mundur, yakni pada Mei atau Juni.
”Dampak dari cuaca bisa dibilang menjadi salah satu faktor penting. Selain panen raya, serapan stok gabah di Bumi Blambangan untuk masuk ke Bulog juga mundur,” ujarnya.
Ilham mengungkapkan, tahun ini petani sudah melakukan penanaman padi di lahan seluas 17.175 hektar (ha).
Dia memprediksi kenaikan harga beras akan terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan.
”Karena hasil panen diperkirakan akan mundur di Mei hingga Juni. Otomatis dampak di pasar yakni kenaikan harga yang cukup tinggi. Selain itu serapan gabah ke Bulog juga nengalami kemerosotan yang cukup banyak,” tuturnya.
Ilham menabahkan, saat ini Bulog telah menyiapkan stok beras impor asal Vietnam. Stok beras yang ada diproyeksi dapat mencukupi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan.
”Nanti akan terus di-update. Pemkab juga menyiapkan berbagai upaya menghadapi kenaikan harga beras dan sembako lain dengan mengadakan operasi pasar murah,” jelasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries