Ratusan warga berebut mendapatkan beras yang dijual dengan harga jauh lebih murah dibanding harga di pasaran.
Ratusan warga rela mengantre demi mendapatkan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dari Bulog.
Beberapa warga bahkan mengajak anak dan suaminya untuk bisa mendapatkan lebih dari dua sak beras.
”Harganya lumayan murah, kalau beras lokal sudah Rp 80 ribu lebih. SPHP yang di toko juga sudah mahal. Harganya Rp 58 ribu, di sini masih Rp 51 ribu,” ujar Rohati, 43, salah seorang pembeli.
Selain beras, Bulog juga menyediakan gula yang dibanderol dengan harga Rp 15 ribu.
Kemudian, ada minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu dan tepung Rp 10 ribu.
Nurdian, 35, warga asal Desa Dadapan, Kecamatan Kabat mengaku lebih mengincar beras dibanding kebutuhan pokok lainnya.
Sebab, harga beras selisihnya lebih tinggi daripada di pasaran.
Sebagai perbandingan, harga beras premium lokal saat ini sudah di angka Rp 84 ribu per lima kilogram. Sedangkan harga beras SPHP yang dijual Rp 51 ribu.
”Di toko ada yang jual beras SPHP. Tapi saya jarang dapat, kalau ada harganya juga lebih tinggi, apalagi kalau sudah diecer,” kata ibu dua anak itu.
Animo masyarakat untuk berbelanja sejumlah kebutuhan pokok di pasar murah cukup tinggi.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, panjang antrean pasar murah yang dimulai pukul 09.00 itu terus mengular sampai depan rumah dinas Kapolresta Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas yang hadir bersama Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi Harisun mengatakan, pasar murah digelar secara bertahap di 25 kecamatan.
Khusus Rabu(21/2), operasi pasar dilaksanakan di dua titik, yakni di Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Sempu.
Ipuk mengatakan, operasi pasar murah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga dengan harga beras yang jauh lebih murah.
”Operasi pasar kita gelar serentak dan bergiliran di 25 kecamatan. Pemkab dan Bulog menyisir berbagai tempat di Banyuwangi untuk diadakan pasar murah,” ujarnya.
Ipuk menambahkan, kenaikan harga beras dipicu oleh dampak El Nino yang berpengaruh terhadap musim panen petani.
”Ini merata di sebagian daerah di Indonesia akibat El Nino karena musim panennya mundur. Bulan Maret sudah musim panen, semoga harga beras kembali stabil,” imbuhnya.
Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi Harisun menambahkan, di setiap kecamatan, Bulog menggerojok 9–10 ton beras untuk memenuhi kebutuhan warga.
Dalam operasi pasar kemarin, setiap warga hanya dibatasi membeli dua karung beras masing-masing seberat 5 kilogram. Tujuannya agar semua warga kebagian dan mengantisipasi tidak diperjualbelikan kembali. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries