Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Siasati Mahalnya Harga Beras, Pedagang Nasi Bungkus di Banyuwangi Pilih Perkecil Porsi 

Bagus Rio Rohman • Rabu, 21 Februari 2024 | 16:17 WIB

SEPI PEMBELI: Pedagang nasi bungkus yang mangkal di depan kantor Kelurahan Giri mengeluhkan kenaikan harga beras selama sepekan ini.
SEPI PEMBELI: Pedagang nasi bungkus yang mangkal di depan kantor Kelurahan Giri mengeluhkan kenaikan harga beras selama sepekan ini.
Radarbanyuwangi.id - Naiknya harga beras dan kebutuhan pokok berdampak terhadap pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Mereka kelimpungan karena pengeluaran dibanding pendapatan sangat pas-pasan.

Melambungnya harga beras benar-benar dirasakan oleh pedagang nasi bungkus.

Salah satunya Siti Mariyam, warga Kelurahan Giri. Mariyam harus memutar otak demi menyiasati kenaikan harga beras tersebut. Seperti mengurangi porsi nasi setiap bungkusnya.

”Harga nasi tetap Rp 6.000 per bungkus. Kami hanya mengurangi porsi nasinya,” ujarnya.

Dikatakan Mariyam, bukan hanya harga beras yang mengalami kenaikan. Hampir semua kebutuhan pokok mulai cabai, tomat, dan lainnya juga mengalami kenaikan harga cukup drastis.

”Semua bahan kebutuhan rumah tangga naik. Mau naikkan harga nasi takutnya tidak menjangkau masyarakat ekonomi ke bawah,” katanya.

Demi keberlangsungan usahanya yang telah dirintis sejak tahun 1997, Mariyam terus bertahan meski kebutuhan pokok naik.

Dia pun memberikan bonus lauk dalam nasi bungkus berupa oseng terong. ”Porsinya dikurangi sedikit, tapi pelanggan tetap kangen dengan oseng-oseng terong yang katanya selalu dinanti. Pernah diganti dengan oseng kacang, malah nggak suka,” ungkapnya.

Dalam sehari, warungnya mampu menjual 400 porsi nasi bungkus. Jumlah tersebut kadang naik jika melayani pesanan dari sejumlah instansi maupun sekolah.

 ”Dalam sehari kebutuhan beras yang kami masak antara 20 sampai 25 kilogram. Kadang bisa lebih jika ada pesanan khusus,” ungkapnya.

Mariyam menyebut, harga beras di Banyuwangi saat ini mencapai Rp 16,5 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram. Beras yang dipilih memang selalu kelas premium.

 ”Beras premium kualitasnya bagus dan awet untuk nasi bungkus. Selain itu rasanya lebih nikmat. Pernah ganti yang murah karena beras mahal, pelanggan justru mengeluh,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Anam, salah seorang pelanggan nasi bungkus Warung Kopi Rojikin di Giri. Anam harus mengeluarkan kocek lebih untuk sarapan pagi karena porsi nasi bungkus berkurang.

”Biasanya satu bungkus nasi tambah teh dan kerupuk Rp 10 ribu sudah kenyang. Sekarang harus tambah satu bungkus lagi, tambah teh harganya bisa sampai Rp 15 ribu sekali makan,” katanya.

Anam berharap, harga sejumlah kebutuhan pokok khususnya beras segera turun. Sebab, kenaikan harga beras cukup berpengaruh terhadap perekonomian warga.

”Minimal stabil, sehingga kami dan pelaku usaha bisa mendapatkan hasil yang sesuai,” ucapnya. (rio/aif/c1)

Editor : Niklaas Andries
#Drastis #terong #cabai #nasi #lauk #bonus #Kilogram #kenyang #pelanggan #beras #tomat #umkm #nasi bungkus #kacang #teh #premium #oseng #Pedagang #harga