Tidak hanya oleh pedagang, tetapi juga masyarakat yang mengkonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari tersebut merasa kenaikan harga komoditas tersebut semakin mencekik.
Salah satu pedagang di Pasar Banyuwangi Inayah mengatakan kenaikan harga beras harinya membuat stok beras di lapak miliknya menjadi sulit terjual. Imbasnya dia membutuhkan banyak waktu agar bisa menghabiskan beras yang ada.
“Beras saya belum terjual selama sepuluh hari lebih, biasanya 5 sak beras hanya butuh dua hari sudah habis,” keluhnya.
Inayah menjelaskan, untuk harga beras eceran saat ini dibandrol dengan harga Rp16.400 per kg dari harga awal Rp14.500 per kg.
Sedangkan untuk produk beras dengan kemasan berat 5 Kilogram dihargai Rp 80.000 dari harga sebelumnya sekitar Rp75.000, minggu lalu.
”Naiknya ahrga beras ini bertahap sejak sepekan lalu, tiap hari naik sebanyak Rp1000 sampai Rp1500,” bebernya.
Meski harga beras hampir seluruh jenis naik, Inayah mengaku, namun beras Bulog Banyuwangi dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap memiliki harga yang stabil.
Diketahui, untuk beras SPHP Dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp10.900 per kg atau kurang lebih Rp 54.500 kemasan 5 kilogram.
”Beras SPHP itu pasti laku terjual. Karena yang lainnya harganya selalu naik terus,” jelasnya.
Koordinator Pasar Banyuwangi Selamet Hariyadi melalui staf petugas pasar Arista Lila Candra menambahkan, untuk stok beras dipasar Banyuwangi saat ini dapat dikatakan aman. Hanya saja kendalanya terus mengalami kenaikan secara bertahap selama sepekan terakhir.
Pihaknya juga menyebut, kemungkinan besar mahalnya beras terjadi karena faktor produksi dari petani akibat pengaruh cuaca dan pabrik penggilingan padi.
Menurutnya, beras SPHP tersebut rutin diberikan kepada toko-toko sembako yang berada di pasar Banyuwangi setiap dua hari sekali dengan jatah setiap toko yaitu 100 sak beras.
”Meskipun ada beras SPHP harga beras ini belum stabil harganya. Saya berharap semoga setelah pemilu ini nanti harga beras bisa kembali stabil dengan harga yang tidak terlalu memberatkan,” tandasnya. (tar)
Editor : Niklaas Andries