Kapal berbendera Sierra Leone itu mengangkut 15.000 ton beras impor dari Vietnam.
Beras tersebut dibawa kapal MV Lancang River yang rencananya akan dibongkar di Banyuwangi sebelum diedarkan ke beberapa wilayah Indonesia Timur seperti NTT dan NTB.
Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi Harisun mengatakan, 15 ribu ton beras tersebut akan dibagi berdasarkan kebutuhan.
Selain dikirim ke wilayah Indonesia Timur, beras tersebut juga akan digunakan untuk kebutuhan di Banyuwangi.
Apalagi saat ini harga komoditas beras di Banyuwangi masih cukup tinggi.
"Kita tinggal menunggu alokasi beras-beras yang datang untuk SPHP berapa," jelasnya.
Dari 15 ribu ton beras yang datang, sebanyak 13 ribu ton dikirim ke NTT. Sisanya baru digunakan untuk stok di Banyuwangi. Dalam waktu dekat, ada kapal lain yang mengangkut 22 ribu ton beras.
"Belasan ribu ton beras tersebut untuk mendukung program SPHP, operasi pasar dan bantuan pangan. Ada 3.900 ton beras yang dikirim ke NTB. Sebagian sudah kita kirim melalui kapal kecil lewat Pelabuhan Lembar,’’ kata Harisun.
Terkait harga beras yang masih tinggi, Harisun tidak bisa melakukan intervensi terlalu tinggi. Selain program operasi pasar dan penggelontoran beras SPHP, pihaknya juga mencoba men-droping beras ke beberapa mitra produsen beras.
Harapanya, beras-beras Bulog akan dijual ke downline mereka sehingga bisa menekan harga beras di lapangan. “Ini merupakan upaya Bulog agar harga beras di pasaran tidak terlalu tinggi,” tandasnya. (fre/aif)
Editor : Niklaas Andries