RadarBanyuwangi.id – Kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram mulai teratasi. Itu terjadi setelah Pertamina menggerojok elpiji melon di tingkat pangkalan hingga 300 persen dari kuota harian.
Pemilik pangkalan elpiji di Kelurahan Klatak, Kalipuro, Banyuwangi, Yudi menuturkan, sejak sepekan terakhir distribusi tabung melon mulai berangsur normal.
Sebelumnya jatah yang dipasok Pertamina langsung ludes. Namun, untuk saat ini beberapa tabung tak terserap oleh pembeli.
Dalam seminggu, Yudi mengaku mendapatkan jatah 30 tabung gas elpiji melon dari agen. ”Minggu ini tidak habis, masih tersisa 12 tabung. Kebutuhan elpji kembali normal,” ucapnya.
Yudi mengaku sudah menerapkan kebijakan agar pembeli elpiji menunjukkan KTP. Mereka yang membeli elpiji melon rata-rata sudah terdata.
”Kalau sudah tercatat cukup menunjukkan saja, tidak perlu menyerahkan fotokopi KTP. Dengan begini kita bisa memprioritaskan elpiji untuk warga sekitar,” jelasnya.
Salah seorang pembeli, Desi membenarkan bahwa selama sepekan terakhir gas elpiji melon tak lagi langka. Warga Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak itu mengaku tak perlu lagi berkeliling untuk mencari stok elpiji melon.
”Mau pakai KTP tidak masalah, yang penting stoknya ada. Yang sulit kalau ada aturan, tapi stoknya tidak ada,” ungkapnya.
Sales Branch Manager Pertamina Banyuwangi Denny Nugrahanto mengatakan, kondisi yang dirasakan masyarakat adalah kelangkaan di tingkat pengecer. Padahal, stok di agen dan pangkalan tidak berkurang.
Namun, setelah terjadi akumulasi, konsumsi elpiji subsidi cukup tinggi. Pertamina langsung memberi penambahan kuota elpiji harian sampai 300 persen dari kondisi normal.
Biasanya dalam sehari, imbuh Denny, Pertamina hanya mengeluarkan 52 ribu tabung elpiji. Sejak tanggal 20 Juli, Pertamina mengeluarkan sekitar 150 ribu sampai 160 ribu tabung per hari.
”Sasaran kami ke pangkalan-pangkalan. Masyarakat kami imbau untuk membeli langsung ke pangkalan, bukan ke pengecer. Selain harganya sesuai HET, ketersediaanya juga bisa dipastikan,” tegasnya.
Saat ini, kebutuhan elpiji subsidi relatif normal. Meski demikian, pihaknya masih akan mengamati kondisi di lapangan sebelum mengembalikan kuota harian ke angka normal.
”Bulan Juni dan Juli kemarin memang di luar perhitungan. Hampir bersamaan ada libur panjang, kemudian musim haji dan libur sekolah. Kebutuhan elpiji menjadi tidak normal,” tegas Denny.
Section Head Communication & Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Taufiq Kurniawan menambahkan, Banyuwangi menjadi salah satu dari dua kabupaten/kota di Jawa Timur yang mendadak mengalami peningkatan konsumsi elpiji subsidi. Padahal, untuk stok tidak ada masalah.
Apalagi, imbuh Taufiq, di Banyuwangi ada depo elpiji yang mampu memproduksi hingga 10 ribu metrik ton gas per hari.
”Kemarin ada panic buying juga, di Jatim hanya Kota Batu dan Banyuwangi yang dilaporkan mengalami kelangkaan,” jelasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin