Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tanaman Cabai Rusak Diserang Cacar

Gerda Sukarno Prayudha • Senin, 20 Februari 2023 | 22:10 WIB
MEMBUSUK: Petani asal Singojuruh, Abdul Holik,  memeriksa tanaman cabai miliknya yang rusak akibat diserang cacar, kemarin (19/2). (Deddy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)
MEMBUSUK: Petani asal Singojuruh, Abdul Holik, memeriksa tanaman cabai miliknya yang rusak akibat diserang cacar, kemarin (19/2). (Deddy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)
ROGOJAMPI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Tanaman cabai rawit milik petani di Rogojampi dan Singojuruh diserang cacar. Bagian buahnya membusuk dan kering. Penyebabnya diduga akibat terlalu sering terkena air hujan terus menerus. Dalam kondisi seperti ini, jamur mudah berkembang biak pada tanaman.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tanaman cabai milik petani di Rogojampi dan Singojuruh mengalami kerusakan cukup parah akibat serangan penyakit yang disebabkan jamur tersebut. Cacar menggerogoti pada bagian buah. Bahkan, ada beberapa ladang sawah petani yang ditanami  cabai dibiarkan tidak dipanen.

“Kalau terkena cacar sudah tidak bisa dipanen. Buahnya (cabai) banyak yang membusuk dan berwarna cokelat kehitaman. Paling bisa diselamatan sedikit. Yang masih bagus-bagus dipanen lebih awal agar tidak semakin menjalar,” ujar Abdul Holik, petani cabai asal Dusun Kunir, Desa/Kecamatan Singojuruh.

Akibat serangan hama cacar, produktivitas tanaman cabai turun hingga 50 persen. Padahal, saat ini harga cabai rawit sedang naik-naiknya, yakni di kisaran harag Rp 60 ribu/kg. Praktis, meroketnya harga cabai tersebut tidak bisa dinikmati para petani komoditas pertanian yang identik dengan rasa pedas tersebut. Sebaliknya, sejumlah petani cabai justru tekor lantaran tanaman miliknya rusak parah akibat terserang penyakit cacar.

Kondisi serupa dialami Mustaqim, petani cabai asal Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari. Sebagain besar tanaman cabai miliknya terserang penyakit cacar. Padahal, Mustaqim sudah melakukan penyemprotan dengan obat anticacar. “Sudah disemprot, tapi hujan turun tiap hari. Percuma disemprot kalau diguyur hujan terus,” katanya.

Tidak hanya daun, cacar juga menyerang buah cabai. Akibatnya, produktivitas tanaman turun drastis. Biasanya satu hektare tanaman cabai, petani bisa memanen hingga 100 kilogram (kg) setiap panen. Saat ini petani hanya mampu memanen di kisaran 10 kg saja. Meskipun harga cabai di tingkat petani tembus Rp 60 ribu per kg, petani tidak dapat menikmati harga yang relatif tinggi tersebut. ”Kalau terus-terusan dibiarkan tanaman cabai bisa mati dan kalau sudah mati ya jelas rugi,” terangnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Ilham Juanda mengatakan, serangan penyakit cacar disebabkan lantaran Banyuwangi mengalami musim hujan. “Cacar disebabkan oleh fungi alias jamur. Saat musim hujan, kelembapan udara naik. Ini merupakan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan jamur sehingga menyebabkan penyakit cacar pada tanaman cabai,” jelasnya.

Photo
Photo
Beberapa cara untuk mengantisipasi cacar pada tanaman cabai, kata Ilham, dengan menyiapkan drainase yang baik (dengan gulutan), sehingga air bisa mengalir lancar. Selain itu, tanahnya tidak diberi mikroorganisme hayati yang menjadi musuh alami jamur serta melakukan penambahan kapur pertanian. “Perlu juga dilakukan aplikasi fungisida,” terangnya.

Ilham menyebut, saat ini total luas tanaman cabai di Banyuwangi mencapai 4.926 hektare. Rinciannya, lahan tanaman cabai rawit seluas 3.792 ha dan luas tanaman cabai merah/besar 1.134 ha. “Sampai saat ini belum ada laporan berapa persen lahan yang terkena cacar. Musim hujan biasanya terjadi peningkatan tanaman yang terserang cacar. Kerusakan tanaman cabai tersebut dipicu kondisi iklim basah serta intensitas cahaya matahari yang berkurang,” tandasnya. (ddy/aif) Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#cabai #lombok #pedes #Rawit