Para pedagang yang ”mangkal” di kawasan yang dikenal dengan sebutan ”Kembangan” itu menjajakan aneka jenis durian lokal berbagai ukuran. Namun sayang, lantaran stok terbatas, harga yang ditawarkan ke konsumen pun masih relatif tinggi.
Salah satu pedagang, Muin mengaku, setiap hari dirinya hanya berhasil menjual beberapa buah saja. ”Karena masih belum masuk musim panen raya, harganya masih tergolong tinggi,” ujarnya kemarin (4/10).
Harga durian yang dijual berkisar antara dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu rupiah per buah, tergantung ukuran. Semakin besar ukurannya, maka harga durian tersebut semakin mahal.
Menurut Muin, musim panen raya durian biasanya berlangsung selama empat bulan, yakni antara Oktober hingga Januari. Saat ini pasokan durian mulai meningkat. ”Pedagang juga mulai banyak berjejer di sepanjang trotoar untuk menawarkan durian,” kata dia.
Durian yang dijual di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto hingga Jalan Wijayakusuma ini didominasi oleh varian lokal. Ukurannya tidak terlalu besar. Rasanya juga bervariasi, ada yang manis, ada pula yang memiliki cita rasa sedikit pahit. ”Durian ini kami beli dari pemilik kebun yang berasal dari daerah Kemiren, Kecamatan Glagah,” imbuh Muin.
Menurut Muin, cita rasa serta ukuran dari durian itu tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualannya. ”Masing-masing pembeli punya selera untuk memilih durian. Ada yang suka manis, tapi ada juga yang suka rasa lebih pahit. Berapa juga ada yang mencari durian ukuran besar, namun ada juga yang suka ukuran kecil,” jelas pria asa Desa Paspan, Kecamatan Glagah, tersebut.
Meskipun saat ini penjualan belum pulih sebagaimana sebelum pandemi Covid-19 melanda, Muin tetap bersemangat untuk menjual durian lebih awal. ”Jika dibandingkan saat pandemi Covid-19, penjualan saat ini jauh lebih baik,” pungkasnya. (cw3/sgt/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid