Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, hotel yang berdekatan dengan Desa Wisata Osing itu terlihat terbengkalai. Pagarnya terbuka tanpa penjaga. Beberapa bangunan hotel yang terbuat dari kayu tampak tak terawat. Padahal, hotel dengan 10 vila dan 16 kamar itu memiliki konsep yang cukup menarik.
Kepala Desa Kemiren M. Arifin membenarkan bahwa Hotel Sahid sudah tidak beroperasi sejak bulan Februari–Maret 2022. Padahal, dengan kontrak lima tahun yang terhitung sejak 2017, seharusnya masa kontrak Sahid baru habis Oktober ini. Belum diketahui penyebab Hotel Sahid tutup. Namun, Arifin menduga okupansi hotel terus menurun sepanjang pandemi Covid-19.
Melihat bangunan hotel yang mangkrak, para pemuda desa punya keinginan untuk ikut mengelola hotel tersebut. Hanya saja, Arifin tak berani memutuskan lantaran hotel tersebut adalah aset milik Pemkab Banyuwangi. ”Sebelumnya anak-anak (Pokdarwis) ingin ikut mengelola Wisata Osing. Ternyata prosedurnya tidak mudah,” imbuh Arifin.
Dia mengungkapkan, selama pandemi Covid-19, jumlah wisatawan di Kemiren menurun drastis. Baru pada akhir 2021 mulai banyak wisatawan yang datang. Sejak tiga pekan lalu, tepatnya sesudah kenaikan harga BBM, jumlah wisatawan kembali menyusut. ”Kalau Hotel Sahid memang tidak terlalu ramai. Apalagi terus kena pandemi,” ucap Arifin.
Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi Ainur Rofiq mengatakan, selama ini pihaknya sudah berupaya untuk membantu pemasaran Hotel Sahid Osing. Banyak kegiatan yang diarahkan di sana. Kenyataannya, okupansi hotel masih belum sesuai harapan. Ditambah lagi, selama dua tahun dunia pariwisata dihantam pandemi Covid-19.
Terkait mundurnya Hotel Sahid dari Banyuwangi, Rofiq mengaku tidak mengetahui tanggal pastinya. Yang jelas hanya satu hotel yang berhenti beroperasi pascapandemi Covid-19. ”Yang tahu tanggal dan kontraknya bagian aset. Kapan mereka masuk dan keluar. Kita sudah berupaya memberikan support kepada Hotel Sahid,” tandas Rofiq. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud