Sumadianto, 52, petani buah naga asal Kecamatan Siliragung mengatakan, budi daya buah naga memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan. Dari lahan seluas 0,25 hektare (ha), dirinya mampu menghasilkan lebih dari 5 kuintal buah naga dalam sekali panen.
Hasil panen yang melimpah itu berasal dari teknik perawatan yang Sumadianto lakukan. Setiap hari pukul 21.00 hingga pukul 05.00, lampu di kebun buah naga miliknya selalu dinyalakan. ”Kalau menggunakan lampu, kira-kira setiap panen bisa mencapai 5 kuintal sampai paling banyak 1 ton,” ujarnya.
Sumadianto menambahkan, harga buah naga bergantung jumlah pasokan di pasaran. Ketika musim panen serentak, harga buah naga merosot. ”Saat panen raya, harga buah naga murah, cuma Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogram (kg),” kata dia.
Sedangkan harga buah naga dari petani yang dijual di luar musim panen serentak mencapai Rp 12 ribu per kg. ”Harga buah naga pernah sampai Rp 17 ribu per kg ketika panen secara lokal saja. Bahkan, paling murah harganya Rp 12 ribu per kg,” imbuh bapak satu anak tersebut.
Hingga Jumat (30/9), harga buah naga bertengger di kisaran Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu per kg. Sekali panen, Sumadianto mengaku bisa mengantongi uang hingga Rp 6 juta.
Meski penghasilan yang didapat sekali panen relatif besar, tetapi modal untuk perawatan seperti pupuk, obat cacar, dan obat hama cukup mahal. ”Harga satu karung pupuk 50 kg sebesar Rp 825 ribu untuk lahan seluas 0,25 hektare,” ucap Sumadianto sembari menyebut pupuk yang dia gunakan bukanlah pupuk subsidi sehingga harganya mahal.
Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Pertanian (Disperta) Banyuwangi Abdul Halim membenarkan tidak ada pupuk subsidi untuk komoditas buah naga. ”Selain sembilan komoditas utama, tidak ada alokasi pupuk bersubsidi, seperti untuk buah naga, jeruk, dan lainnya,” pungkasnya. (cw4/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin