Beberapa pedagang kembang telur tampak berjejer di Jalan Satsuit Tubun yang ”membelah” Pasar Banyuwangi, Senin (26/9). Mereka mengaku, setelah sempat mengalami penurunan omzet imbas pandemi Covid-19, tahun ini pesanan kembang telur alias kembang endog mulai ramai lagi.
Salah satu pedagang, Hariyati mengatakan, setiap memasuki bulan Rabiul Awal sudah menjadi rutinitas para pedagang memilih untuk menjual kembang telur. Sebab, masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi Endog-endogan yang digelar sejak lama. ”Setiap Maulid datang, kembang telur banyak dicari. Satu bulan sebelum Maulid saya sudah mulai jualan,” ujarnya.
Hariyati menjual beberapa model kembang telur. Di antaranya model contong, bunga, bebek, buah, dan aneka model lainnya. Harga yang dipatok pun beragam. Untuk kembang telur model contong dari bahan plastik dijual seharga Rp 1 ribu per unit. Kemudian model bunga dari bahan plastik dibanderol seharga Rp 2 ribu per unit. Sedangkan model bebek dari plastik dijual seharga Rp 2.500 per unit. ”Harganya disesuaikan dengan model dan bahan dasarnya,” tutur perempuan yang berdomisili di Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro tersebut.
Hariyati mengaku, di hari-hari awal jelang Maulid pesanan kembang telur masih relatif sepi. Namun, ketika sudah mendekati tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, pesanan mulai berdatangan. Bahkan, tidak hanya dari masyarakat Banyuwangi saja, pesanan juga bisa datang dari luar kota. ”Alhamdulillah, setiap Maulid datang, pedagang bisa dapat rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup,”pungkasnya. (cw2/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin