Catatan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, groundbreaking pabrik kereta api (KA) milik PT Industri Kereta Api (Inka) tersebut dilakukan pada 31 Maret 2019. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kala itu, yakni Imam Apriyanto Putro dan Bupati Abdullah Azwar Anas di areal pabrik, di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.
Pabrik alias workshop PT Inka yang dibangun di lahan seluas 83 hektare (ha) tersebut rencananya difokuskan untuk menggarap pasar ekspor ke wilayah Asia, Afrika, dan Australia. Pabrik itu mengusung teknologi terbaru hasil kolaborasi Inka dengan salah satu perusahaan kereta api terbesar dunia, Stadler Rail Group.
Di awal pembangunannya, pabrik itu diproyeksi menghasilkan hingga empat gerbong kereta per hari. Kapasitas tersebut jauh lebih besar dibanding pabrik Inka di Madiun yang hanya menghasilkan satu kereta per hari.
Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno meninjau progres pembangunan industri kereta api tersebut pada Juli 2019 lalu. Menteri Rini hadir bersama Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, Direktur Utama PT Inka Budi Noviantoro, Dirut PTPN XII Cholidi, dan Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. ”Pabrik ini bakal menjadi yang terbesar di ASEAN, akan menjadi kebanggaan warga Banyuwangi dan Indonesia,” ujarnya.
Direktur Utama PT Inka Budi Noviantoro menargetkan workshop Inka di Banyuwangi tersebut sudah mulai berproduksi pada 2020. Sebab, saat pabrik itu dibangun, Inka menerima banyak pesanan kereta untuk ekspor. Salah satunya dari Srilanka yang memesan 250 kereta dengan nilai USD 100 juta. Belum lagi untuk memenuhi pesanan dari Bangladesh dan Filipina. Inka juga menjajaki peluang pasar baru di Afrika, Australia, dan Taiwan.
Namun pada perkembangan berikutnya, pembangunan pabrik tersebut ternyata molor dari target. Pembangunan sempat terhenti imbas pandemi Covid-19. Target mulai beroperasi pun mundur menjadi tahun 2021.
Bahkan, bupati kala itu, Abdullah Azwar Anas sempat mengunjungi lokasi pembangunan pabrik pada Agustus 2020 lalu. Dia datang untuk memastikan keberadaan industri itu dapat menjadi pendorong pemulihan ekonomi di Banyuwangi setelah dampak dari pandemi Covid-19. ”Alhamdulillah, industri kereta api ini kembali berjalan terus, setelah sempat tertunda karena pandemi. Dari penjelasan manajemen PT Inka, pembangunan fisik tuntas Oktober 2020, lalu dilanjutkan instalasi mesin, uji operasi, commissioning, ditargetkan beroperasi tahun depan (2021),” ujarnya kala itu.
Sementara itu, setelah kembali dilanjutkan, pembangunan workshop Inka di Banyuwangi beserta fasilitas pabriknya akhirnya rampung beberapa waktu lalu. Hanya saja, hingga memasuki pertengahan triwulan ketiga tahun ini, pabrik tersebut belum beroperasi.
Senior Manager Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (SM TJSL) dan Stakeholder Relationship PT Inka Bambang Ramadhiarto mengatakan, workshop Inka di Banyuwangi dikhususkan untuk produk kereta berpenggerak, seperti kereta rel listrik (KRL), kereta rel diesel (KRD), dan kereta rel diesel elektrik (KRDE). ”Progres program pembangunan workshop Banyuwangi dan fasilitas pabriknya saat ini sudah selesai,” ujarnya Selasa (30/8).
Namun demikian, Bambang tidak menampik pabrik KA di Banyuwangi tersebut belum beroperasi. Dia menuturkan, investasi terkait mesin-mesin produksi dan alat pengujian mulai dilakukan setelah adanya pesanan masuk alias order untuk kereta berpenggerak . ”Kami berharap pesanan masuk KRL dapat segera terwujud, sehingga pabrik dapat mulai beroperasi,” pungkasnya. (sgt/aif/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha