BANYUWANGI - Selamat tinggal 2021. Selamat datang tahun 2022. Tahun yang diliputi optimisme. Tahun yang diharapkan bakal jauh lebih bersahabat dibandingkan 2020 dan 2021 yang terasa begitu berat imbas pandemi Covid-19.
Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi melesat sejak 2016 sampai 2019. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir di situs resmi Pemkab Banyuwangi menyebutkan, pada 2016 ekonomi Banyuwangi tumbuh sebesar 5,38 persen. Sedangkan di tahun 2017, 2018, dan 2019, pertumbuhan ekonomi kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini masing-masing mencapai 5,6 persen, 5,84 persen, dan 5,55 persen.
Namun, saat pandemi Covid-19 terjadi, perekonomian masyarakat Banyuwangi pun terseok-seok. Akibatnya, pada 2020 pertumbuhan ekonomi Banyuwangi terjerembap menjadi minus 3,58 persen. Sedangkan di tahun 2021, ekonomi Banyuwangi diyakini kembali positif meskipun tidak sebesar sebelum pandemi.
Menghadapi tahun 2022, pemkab optimistis kondisi perekonomian kabupaten the Sunrise of Java ini membaik. Bahkan, pada nota pengantar Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2022, pemkab memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mencapai 4,27 sampai 5,29 persen.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Bupati Ipuk Fiestiandani mengaku optimistis perekonomian Banyuwangi bakal meningkat. Untuk itu, tahun ini pemkab akan tetap fokus pada penguatan ekonomi arus bawah, yakni usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). ”Karena beberapa program penguatan UMKM yang telah dilakukan telah terbukti mengungkit perekonomian secara cepat,” ujarnya.
Selain penguatan UMKM, Ipuk mengaku pemkab akan terus melakukan penguatan pada sektor pertanian dan perikanan. Tidak hanya di sektor on farm (usaha di lahan pertanian atau budi daya, Red), tetapi juga di sektor off farm (usaha di luar lahan pertanian/produk non-budi daya dan hasil pascapanen, Red).
”Hasil produk-produk pertanian kita kuatkan lagi. Ini sangat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan petani. Konsep pembangunan pertanian bukan hanya persoalan pupuk dan pertanian, tetapi juga pasar hasil pertanian dan perikanan Banyuwangi,” kata Ipuk.
Dia lantas membeber beberapa contoh nyata penguatan sektor pertanian dan perikanan yang telah dilakukan pemkab. Di antaranya upaya pemberdayaan petani serta nelayan dan masyarakat pesisir melalui pelatihan pengolahan hasil pertanian dan perikanan. Selain itu, pemkab juga menggandeng pihak eksternal untuk mengembangkan pertanian dan perikanan Banyuwangi. ”Termasuk dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan rintisan (startup) di Jakarta untuk membuka pasar produk pertanian dan perikanan Banyuwangi,” tuturnya.
Pemkab juga bakal melanjutkan pembangunan dan pengembangan bidang pariwisata di Banyuwangi. Pariwisata diharapkan terus menjadi pengungkit perekonomian Bumi Blambangan. ”Pariwisata masih menjadi hal yang perlu kita teruskan. Wisata edukasi, ecotourism, wisata alam, terus kita kembangkan. Konsep pariwisata sejalan dengan pertumbuhan UMKM di Banyuwangi. UMKM akan tumbuh karena ada orang datang ke Banyuwangi,” beber Ipuk.
Namun demikian, Ipuk menggarisbawahi bahwa program-program pembangunan tersebut tidak bisa berjalan optimal jika penyebaran Covid-19 tidak bisa dikendalikan. Karena itu, dia mengimbau seluruh masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan (prokes). ”Program vaksinasi Covid-19 juga terus kami percepat. Alhamdulillah, progresnya baik,” kata dia.
Wakil Rektor I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi Yovita Vivianty Inriadewi Atmadjaja SE MComm mengatakan, jika pandemi Covid-19 berhasil ditekan atau pandemi benar-benar berlalu, maka target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan Pemkab Banyuwangi tersebut bukan hal mustahil untuk dicapai. Namun sebaliknya, jika tidak terkendali atau terjadi gelombang ketiga penyebaran Covid-19, maka imbasnya akan sangat besar pada perekonomian masyarakat.
Yovita menuturkan, setelah puncak penyebaran Covid-19 yang terjadi pada Juli sampai Agustus 2021 lalu berhasil dilalui, perlahan namun pasti perekonomian masyarakat Banyuwangi mulai bangkit. Kebangkitan ekonomi itu salah satunya didukung dengan kebijakan pemkab yang menitikberatkan pada pengembangan UMKM. Termasuk memberikan bantuan alat usaha produktif, pendampingan terhadap para pelaku UMKM dalam mengembangkan produknya, perizinan, tata kelola keuangan sampai pemasaran, pelatihan kewirausahaan, serta sejumlah program lain.
Menurut Yovita, di tahun ini pengembangan UMKM perlu terus dilakukan. Termasuk mendorong usaha rakyat agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi (TI). ”UMKM berbasis online perlu terus dikuatkan. Ini bukan suatu yang wah, tetapi sudah menjadi kebutuhan,” tuturnya.
Masih menurut Yovita, selain melakukan penguatan UMKM, sektor pertanian juga perlu dikuatkan. Bukan itu saja, sektor pariwisata yang sempat sangat terpuruk imbas pandemi Covid-19 juga punya peluang bagus tahun ini. ”Bahkan, saat pariwisata daerah lain terpuruk, sektor pariwisata Banyuwangi masih cukup oke. Buktinya Banyuwangi dipercaya menjadi lokasi rapat atau pertemuan pemerintah Provinsi Jatim. Selain itu, tidak sedikit pejabat pusat hingga pesohor negeri yang berkunjung ke Bumi Blambangan ini,” kata dia.
Yovita kembali menggarisbawahi bahwa penanganan dan pengendalian Covid-19 tetap menjadi kunci kebangkitan ekonomi Banyuwangi. Tidak terkecuali di bidang pariwisata. ”Ketaatan terhadap prokes oleh seluruh masyarakat, pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi di destinasi wisata, hotel, dan restoran juga perlu terus dilakukan agar kepercayaan wisatawan berkunjung ke Banyuwangi semakin meningkat,” pungkasnya.
Editor : Ali Sodiqin